<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Ocha Nugroho</title>
	<atom:link href="http://ochanugroho.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ochanugroho.com</link>
	<description>Kisah sang ibu rumah tangga</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Mar 2011 03:46:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Ibu, Sungguh Begitu Mulia Peranmu</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2011/03/ibu-sungguh-begitu-mulia-peranmu/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2011/03/ibu-sungguh-begitu-mulia-peranmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 03:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Agama Islam sangat memuliakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman, {وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agama Islam sangat memuliakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>{وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا}</p>
<p>“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS an-Nisaa’:124).</p>
<p>Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>{مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}</p>
<p>“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS an-Nahl:97)[1].</p>
<p>Sebagaimana Islam juga sangat memperhatikan hak-hak kaum perempuan, dan mensyariatkan hukum-hukum yang agung untuk menjaga dan melindungi mereka[2].</p>
<p>Syaikh Shaleh al-Fauzan berkata, “Wanita muslimah memiliki kedudukan (yang agung) dalam Islam, sehingga disandarkan kepadanya banyak tugas (yang mulia dalam Islam). Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang khusus bagi kaum wanita[3], bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat khusus tentang wanita dalam kutbah beliau di Arafah (ketika haji wada’)[4]. Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu…[5].</p>
<p>Tugas dan peran penting wanita</p>
<p>Agungnya tugas dan peran wanita ini terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam, yang dengan memberikan bimbingan yang baik bagi mereka, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat dan umat Islam.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya kaum wanita memiliki peran yang agung dan penting dalam upaya memperbaiki (kondisi) masyarakat, hal ini dikarenakan (upaya) memperbaiki (kondisi) masyarakat itu ditempuh dari dua sisi:</p>
<p>- Yang pertama: perbaikan (kondisi) di luar (rumah), yang dilakukan di pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya di luar (rumah). Yang perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki, karena merekalah orang-orang yang beraktifitas di luar (rumah).</p>
<p>- Yang kedua: perbaikan di balik dinding (di dalam rumah), yang ini dilakukan di dalam rumah. Tugas (mulia) ini umumnya disandarkan kepada kaum wanita, karena merekalah pemimpin/pendidik di dalam rumah, sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p>{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}</p>
<p>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS al-Ahzaab:33).</p>
<p>Oleh karena itu, tidak salah kalau sekiranya kita mengatakan: bahwa sesungguhnya kebaikan separuh atau bahkan lebih dari (jumlah) masyarakat disandarkan kepada kaum wanita. Hal ini dikarenakan dua hal:</p>
<p>1. Jumlah kaum wanita sama dengan jumlah laki-laki, bahkan lebih banyak dari laki-laki. Ini berarti umat manusia yang terbanyak adalah kaum wanita, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…Berdasarkan semua ini, maka kaum wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki (kondisi) masyarakat.</p>
<p>2. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para wanita, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki masyarakat[6].</p>
<p>Makna inilah yang diungkapkan seorang penyair dalam bait syairnya:</p>
<p>الأم مدرسة إذا أعددتَها</p>
<p>أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق</p>
<p>Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya</p>
<p>Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya[7]</p>
<p>Bagaimana seorang wanita mempersiapkan dirinya agar menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya?</p>
<p>Agar seorang wanita berhasil mengemban tugas mulia ini, maka dia perlu menyiapkan dalam dirinya faktor-faktor yang sangat menentukan dalam hal ini, di antaranya:</p>
<p>1- Berusaha memperbaiki diri sendiri.</p>
<p>Faktor ini sangat penting, karena bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik, kalau dia sendiri tidak memiliki kebaikan tersebut dalam dirinya? Sebuah ungkapan Arab yang terkenal mengatakan:</p>
<p>فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ</p>
<p>“Sesuatu yang tidak punya tidak bisa memberikan apa-apa”[8].</p>
<p>Maka kebaikan dan ketakwaan seorang pendidik sangat menetukan keberhasilannya dalam mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan. Oleh karena itu, para ulama sangat menekankan kewajiban meneliti keadaan seorang yang akan dijadikan sebagai pendidik dalam agama.</p>
<p>Dalam sebuah ucapannya yang terkenal Imam Muhammad bin Sirin berkata: “Sesungguhnya ilmu (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu mencapai ketakwaan), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu”[9].</p>
<p>Faktor penting inilah yang merupakan salah satu sebab utama yang menjadikan para sahabat Nabi menjadi generasi terbaik umat ini dalam pemahaman dan pengamalan agama mereka. Bagaimana tidak? Da’i dan pendidik mereka adalah Nabi yang terbaik dan manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala, yaitu Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala  dalam firman-Nya,</p>
<p>{وكيف تكفرون وأنتم تتلى عليكم آيات الله وفيكم رسوله}</p>
<p>“Bagaimana mungkin (baca: tidak mungkin) kalian (wahai para sahabat Nabi), (sampai) menjadi kafir, karena ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian (sebagai pembimbing)” (QS Ali ‘Imraan:101).</p>
<p>Contoh lain tentang peranan seorang pendidik yang baik adalah apa yang disebutkan dalam biografi salah seorang Imam besar dari kalangan tabi’in, Hasan bin Abil Hasan Al Bashri[10], ketika Khalid bin Shafwan[11] menerangkan sifat-sifat Hasan Al Bashri kepada Maslamah bin Abdul Malik[12] dengan berkata: “Dia adalah orang yang paling sesuai antara apa yang disembunyikannya dengan apa yang ditampakkannya, paling sesuai ucapan dengan perbuatannya, kalau dia duduk di atas suatu urusan maka diapun berdiri di atas urusan tersebut…dan seterusnya”, setelah mendengar penjelasan tersebut Maslamah bin Abdul Malik berkata: “Cukuplah (keteranganmu), bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat (dalam agama mereka) kalau orang seperti ini (sifat-sifatnya) ada di tengah-tengah mereka?”[13].</p>
<p>Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’[14] tentang sedikitnya pengaruh nasehat yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan nasehat yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dirimu sendiri, sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati  maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)” [15].</p>
<p>2- Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.</p>
<p>Faktor ini sangat berhubungan erat dengan faktor yang pertama, yang perlu kami jelaskan tersendiri karena pentingnya.</p>
<p>Menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anak didik termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan[16].</p>
<p>Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan[17].</p>
<p>Oleh karena itulah, dalam banyak ayat al-Qur’an Allah Ta’ala menceritakan kisah-kisah para Nabi yang terdahulu, serta kuatnya kesabaran dan keteguhan mereka dalam mendakwahkan agama Allah Ta’ala, untuk meneguhkan hati Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengambil teladan yang baik dari mereka[18]. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>{وكلا  نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك، وجاءك في هذه الحق وموعظة وذكرى للمؤمنين}</p>
<p>“Dan semua kisah para Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Hud:120).</p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata,</p>
<p>“Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’ “[19].</p>
<p>Sehubungan dengan hal ini, imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibarahim al-Harbi[20]. Dari Muqatil bin Muhammad al-’Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”[21].</p>
<p>3- Memilih metode pendidikan yang baik bagi anak</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً}</p>
<p>“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4)[22].</p>
<p>Termasuk metode pendidikan yang benar adalah membiasakan anak-anak sejak dini melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya, sebelum mereka mencapai usia dewasa, agar mereka terbiasa dalam ketaatan.</p>
<p>Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani ketika menjelaskan makna hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan t masih kecil[23], beliau menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah: bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[24].</p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Termasuk (pembinaan) awal yang diharamkan (dalam Islam) adalah memakaikan pada anak-anak kecil pakaian yang menampakkan aurat, karena ini semua menjadikan mereka terbiasa dengan pakaian dan perhiasan tersebut (sampai dewasa), padahal pakaian tersebut menyerupai (pakaian orang-orang kafir), menampakkan aurat dan merusak kehormatan”[25].</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ketika ditanya: apakah diperbolehkan bagi anak kecil, laki-laki maupun perempuan, untuk memakai pakaian pendek yang menampakkan pahanya? Beliau menjawab: “Sudah diketahui bahwa anak kecil yang umurnya dibawah tujuh tahun, tidak ada hukum (larangan menampakkan) bagi auratnya. Akan tetapi membiasakan anak-anak kecil memakai pakaian yang pendek dan menampakkan aurat (seperti) ini tentu akan membuat mereka mudah (terbiasa) membuka aurat nantinya (setelah dewasa). Bahkan bisa jadi seorang anak (setelah dewasa) tidak malu menampakkan pahanya, karena sejak kecil dia terbiasa menampakkannya dan tidak peduli dengannya… Maka menurut pandanganku anak-anak (harus) dilarang memakai pakaian (seperti) ini, meskipun mereka masih kecil, dan hendaknya mereka memakai pakaian yang sopan dan jauh dari (pakaian) yang dilarang (dalam agama)”[26].</p>
<p>Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam bait syairnya:</p>
<p>Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya</p>
<p>Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh[27]</p>
<p>Senada dengan syair di atas, ada pepatah arab yang mengatakan:</p>
<p>“Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tua pun dia akan terus melakukannya”[28].</p>
<p>4- Kesungguhan dan keseriusan dalam mendidik anak</p>
<p>Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Anak-anak adalah amanah (titipan Allah Ta’ala) kepada kedua orang tua atau orang yang bertanggungjawab atas urusan mereka. Maka syariat (Islam) mewajibkan mereka menunaikan amanah ini dengan mendidik mereka berdasarkan petunjuk (agama) Islam, serta mengajarkan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia. Kewajiban yang pertama (diajarkan kepada mereka) adalah: menanamkan ideologi (tentang) iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul, hari akhirat, dan mengimani takdir Allah yang baik dan buruk, juga memperkokoh (pemahaman) tauhid yang murni dalam jiwa mereka, agar menyatu ke dalam relung hati mereka. Kemudian mengajarkan rukun-rukun Islam pada diri mereka, (selalu) menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan sifat-sifat bawaan mereka (yang baik), menumbuhkan (pada) watak mereka akhlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh luar yang buruk.</p>
<p>Inilah rambu-rambu pendidikan (Islam) yang diketahui dalam agama ini secara pasti (oleh setiap muslim), yang karena pentingnya sehingga para ulama menulis kitab-kitab khusus (untuk menjelaskannya)…Bahkan (metode) pendidikan (seperti) ini adalah termasuk petunjuk para Nabi dan bimbingan orang-orang yang bertakwa (para ulama salaf)”[29].</p>
<p>Lebih lanjut, syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menekankan pentingnya masalah ini dalam ucapan beliau: “Anak-anak pada masa awal pertumbuhan mereka, yang selalu bersama mereka adalah seorang ibu, maka jika sang ibu memiliki akhlak dan perhatian yang baik (kepada mereka), (tentu) mereka akan tumbuh dan berkembang (dengan) baik dalam asuhannya, dan ini akan memberikan dampak (positif) yang besar bagi perbaikan masyarakat (muslim).</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi seorang wanita yang mempunyai anak, untuk memberikan perhatian (besar) kepada anaknya dan kepada (upaya) mendidiknya (dengan pendidikan yang baik). Kalau dia tidak mampu melakukannya seorang diri, maka dia bisa meminta tolong kepada suaminya atau orang yang bertanggung jawab atas urusan anak tersebut…</p>
<p>Dan tidak pantas seorang ibu (bersikap) pasrah dengan kenyataan (buruk yang ada), dengan mengatakan: “Orang lain sudah terbiasa melakukan (kesalahan dalam masalah) ini dan aku tidak bisa merubah (keadaan ini)”.</p>
<p>Karena kalau kita terus menerus pasrah dengan kenyataan (buruk ini), maka nantinya tidak akan ada perbaikan, sebab (dalam) perbaikan mesti ada (upaya) merubah yang buruk dengan cara yang baik, bahkan merubah yang (sudah) baik menjadi lebih baik (lagi), supaya semua keadaan kita (benar-benar) menjadi baik.</p>
<p>Di samping itu, (sikap) pasrah pada kenyataan (buruk yang ada) adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam syariat Islam. Oleh karena itulah, ketika Allah mengutus Nabi kepada kaumnya yang berbuat syirik (bangsa Arab jahiliyyah), yang masing-masing mereka menyembah berhala, memutuskan hubungan kekeluargaan, berbuat aniaya dan melampaui batas terhadap orang lain tanpa alasan yang benar, (pada waktu itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas (bersikap) pasrah (pada kenyataan yang ada), bahkan Allah sendiri tidak mengizinkan beliau (bersikap) pasrah pada kenyataan (buruk tersebut). Allah memerintahkan kepada beliau:</p>
<p>“Maka sampaikanlah (secara terang-terangan) segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah (jangan pedulikan) orang-orang yang musyrik” (QS al-Hijr:94)”[30].</p>
<p>Penutup</p>
<p>Demikianlah, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada para wanita muslimah, agar mereka menyadari mulianya tugas dan peran mereka dalam Islam, dan agar mereka senantiasa berpegang teguh dengan petunjuk-Nya dalam mendidik generasi muda Islam dan dalam urusan-urusan kehidupan lainnya.</p>
<p>وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 8 Syawwal 1430 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Artikel www.muslim.or.id</p>
<p>[1] Lihat keterangan syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 17).</p>
<p>[2] Lihat kitab “al-Mar’ah, baina takriimil Islam wa da’aawat tahriir” (hal. 6).</p>
<p>[3] Misalnya dalam HSR al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468).</p>
<p>[4] Dalam HSR Muslim (no. 1218).</p>
<p>[5] Kitab “at-Tanbiihaat ‘ala ahkaamin takhtashshu bil mu’minaat” (hal. 5).</p>
<p>[6] Kitab “Daurul mar-ati fi ishlaahil mujtama’” (hal. 3-4).</p>
<p>[7] Dinukil oleh syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati fil Islam” (hal. 5).</p>
<p>[8] Dinukil oleh syaikh al-Albani dalam kitab “at-Tawassul, ‘anwaa’uhu wa ahkaamuhu” (hal. 74).</p>
<p>[9] Muqaddimah shahih Muslim (1/12).</p>
<p>[10] Beliau adalah Imam besar dan terkenal dari kalangan Tabi’in ‘senior’ (wafat 110 H), memiliki banyak keutamaan sehingga sebagian dari para ulama menobatkannya sebagai tabi’in yang paling utama, biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (6/95) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/563).</p>
<p>[11] Beliau adalah Abu Bakr Khalid bin Shafwan bin Al Ahtam Al Minqari Al Bashri, seorang yang sangat fasih dalam bahasa Arab, biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/226).</p>
<p>[12] Beliau adalah Maslamah bin Abdil Malik bin Marwan bin Al Hakam (wafat 120 H), seorang gubernur dari Bani Umayyah, saudara sepupu Umar bin Abdul Aziz dan meriwayatkan hadits darinya, biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (27/562) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (5/241).</p>
<p>[13] Siyaru a’laamin nubala’ (2/576).</p>
<p>[14] Beliau adalah Muhammad bin Waasi’ bin Jabir bin Al Akhnas Al Azdi Al Bashri (wafat 123 H), seorang Imam dari kalangan Tabi’in ‘junior’ yang taat beribadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits, Imam Muslim mengeluarkan hadits beliau dalam kitab “Shahih Muslim” . Biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (26/576) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (6/119).</p>
<p>[15] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/122).</p>
<p>[16] Lihat “al-Mu’in ‘ala tahshili adabil ‘ilmi” (hal. 50) dan “Ma’alim fi thariqi thalabil ‘ilmi” (hal. 124).</p>
<p>[17] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 271).</p>
<p>[18] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (2/611).</p>
<p>[19] Kitab “Hirasatul fadhiilah” (hal. 127-128).</p>
<p>[20] Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala’” (13/356).</p>
<p>[21] Kitab “Shifatush shafwah” (2/409).</p>
<p>[22] Kutubu wa rasaa-ilu syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimiin (4/14).</p>
<p>[23] HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).</p>
<p>[24] Fathul Baari (3/355).</p>
<p>[25] Kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 10).</p>
<p>[26] Kitab “Majmu’atul as-ilah tahummul usratal muslimah (hal. 146).</p>
<p>[27] Kitab “Adabud dunya wad diin” (hal. 334).</p>
<p>[28] Dinukil dan dibenarkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin dalam “Majmu’atul as-ilah tahummul usratal muslimah (hal. 43).</p>
<p>[29] Kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 122).</p>
<p>[30] Kitab “Daurul mar-ati fi ishlaahil mujtama’” (hal. 14-15).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2011/03/ibu-sungguh-begitu-mulia-peranmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumus Kecantikan Wanita</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/10/rumus-kecantikan-wanita/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/10/rumus-kecantikan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 12:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang. Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka. AH MASA SIH?? Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.<br />
Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.<br />
AH MASA SIH??</p>
<p>Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja. Semua warga Indonesia seolah satu kata bahwa yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, bibir merah, mata jeli, langsing, dll. Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syari’at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Ada yang harap-harap cemas mengoleskan pemutih kulit, pelurus rambut, mencukur alis, mengeriting bulu mata, mengecat rambut sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dll. Singkat kata, mereka ingin tampil secantik model sampul, bintang iklan ataupun teman pengajian yang qadarullah tampilannya memikat hati. Maka tidak heran setiap saya melewati toko kosmetik terbesar di kota saya, toko tersebut tak pernah sepi oleh riuh rendah kaum hawa yang memilah milih kosmetik dalam deretan etalase dan mematut di depan kaca sambil terus mendengarkan rayuan manis dari si mba SPG.<br />
Kata cantik telah direduksi sedemikian rupa oleh media, sehingga banyak yang melalaikan hakikat cantik yang sesungguhnya. Mereka sibuk memoles kulit luar tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang. Tujuannya? Jelas, untuk menambah deretan fans dan agar kelak bisa lebih mudah mencari pasangan hidup, alangkah naifnya. Faktanya, banyak dari teman-teman pengajian saya yang sukses menikah bukanlah termasuk wanita yang cantik ataupun banyak kasus yang muncul di media massa bahwa si cantik ini dan itu perkawinannya kandas di tengah jalan. Jadi, tidak ada korelasi antara cantik dan kesuksesan hidup!.</p>
<p>Teman-teman saya yang sukses menikah walaupun tidak cantik-cantik amat tapi kepribadiannya amat menyenangkan, mereka tidak terlalu fokus pada rehab kulit luar tapi mereka lebih peduli pada recovery iman yang berkelanjutan sehingga tampak dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kokoh tidak rapuh. Pun, jika ada teman yang berwajah elok mereka malah menutupinya dengan cadar supaya kecantikannya tidak menjadi fitnah bagi kaum adam dan hanya dipersembahkan untuk sang suami saja, SubhanAlloh. Satu kata yang terus bergema dalam hidup mereka yakni bersyukur pada apa-apa yang telah Alloh berikan tanpa menuntut lagi, ridho dengan bentuk tubuh dan lekuk wajah yang dianugerahkan Alloh karena inilah bentuk terbaik menurut-Nya, bukan menurut media ataupun pikiran dangkal kita. Kalau kita boleh memilih, punya wajah dan kepribadian yang cantik itu lebih enak tapi tidak semua orang dianugerahi hal semacam itu, itulah ke maha adilan Alloh, ada kelebihan dan kekurangan pada diri tiap orang. Dan satu hal yang pasti, semua orang bertingkah laku sesuai pemahaman mereka, jika kita rajin menuntut ilmu agama InsyaAlloh gerak-gerik kita sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Demikian pula yang terjadi pada wanita-wanita yang terpaku pada kecantikan fisik semata, menurut asumsi saya, mereka merupakan korban-korban iklan dan kurang tekun menuntut ilmu agama, sehingga lahirlah wanita-wanita yang berpikiran dangkal, mudah tergoda dan menggoda. Mengutip salah satu hadist, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>    “Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan pahamkan ia dalam agamanya”(Shahih, Muttafaqun ‘alaihi).</p>
<p>Hadist diatas dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz bahwa ia menunjukkan keutamaan ilmu. Jika Alloh menginginkan seorang hamba memperoleh kebaikan, Alloh akan memahamkan agama-Nya hingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil, mana petunjuk mana kesesatan. Dengannya pula ia dapat mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta tahu keagungan hak-Nya. Ia pun akan tahu akhir yang akan diperoleh para wali Alloh dan para musuh Alloh.</p>
<p>Syaikh Ibnu Baz lebih lanjut juga mengingatkan betapa urgennya menuntut ilmu syari’at:</p>
<p>    “Adapun ilmu syar’i, haruslah dituntut oleh setiap orang (fardhu ‘ain), karena Alloh menciptakan jin dan manusia untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Sementara tidak ada jalan untuk beribadah dan bertaqwa kecuali dengan ilmu syar’i, ilmu Al-Qur’an dan as Sunnah”.</p>
<p>Dus, sadari sejak semula bahwa Alloh menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepadaNya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang Ittibaurrasul (mencontoh Rasulullah) sesuai pemahaman generasi terbaik yang terdahulu (salafusshalih), itu adalah tugas pokok dan wajib. Jika kita berilmu niscaya kita akan mengetahui bahwa mencukur alis (an-namishah), tatto (al-wasyimah), mengikir gigi (al-mutafallijah) ataupun trend zaman sekarang seperti menyambung rambut asli dengan rambut palsu (al-washilah) adalah haram karena perbuatan-perbuatan tersebut termasuk merubah ciptaan Alloh. Aturan-aturan syari’at adalah seperangkat aturan yang lengkap dan universal, sehingga keinginan untuk mempercantik diri seyogyanya dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah syara’ sehingga kecantikan kita tidak mendatangkan petaka dan dimurkai Alloh. Apalah gunanya cantik tapi hati tidak tentram atau cantik tapi dilaknat oleh Alloh dan rasul-Nya, toh kecantikan fisik tidak akan bertahan lama, ia semu saja. Ada yang lebih indah dihadapan Alloh, Rabb semesta alam, yaitu kecantikan hati yang nantinya akan berdampak pada mulianya akhlaq dan berbalaskan surga. Banyak-banyaklah introspeksi diri (muhasabah), kenali apa-apa yang masih kurang dan lekas dibenahi. Jangan ikuti langkah-langkah syaitan dengan melalaikan kita pada tugas utama karena memoles kulit luar bukanlah hal yang gratis, ia butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah menghambur-hamburkan uang (boros) adalah teman syaitan?. JADI, mari kita ubah sedikit demi sedikit mengenai paradigma kecantikan.</p>
<p>Faham Syari’at = CANTIK<br />
Tidak Faham Syari’at = Tidak CANTIK sama sekali!<br />
Bagaimana? setuju?.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wa sallam bersabda:<br />
”Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum”<br />
”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati dan kalian” (HR. Muslim)</p>
<p>Mari kita simak syair indah dibawah ini:</p>
<p>    Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum<br />
    Karena banyaknya madu yang dimiliki bunga<br />
    Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu</p>
<p>    Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik<br />
    Karena memiliki hati yang cantik<br />
    Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena jelek hatinya</p>
<p>    Karena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tapi apa yang ada didalam dada<br />
    Maka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang.<br />
Wallahu ‘alam bisshowab </p>
<p>(ummu Zahwa).<br />
Maroji’:<br />
297 Larangan Dalam Islam dan Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Aal ath-Thahthawi.</p>
<p>Artikel : jilbab.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/10/rumus-kecantikan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Harus Malu??</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/10/menjadi-ibu-rumah-tangga-mengapa-harus-malu/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/10/menjadi-ibu-rumah-tangga-mengapa-harus-malu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 12:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah:</p>
<p>    ”biasa di rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas lainnya!”</p>
<p>Duh, sebegitu hinakah profesi ini?</p>
<p>Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab,</p>
<p>    “Wow, profesi yang hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!”</p>
<p>Ya,.. karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak (childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama anak anda di panggil.1 Rata-rata mereka memilih bekerja daripada mengasuh anak dirumah.</p>
<p>Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita terhadap ibu? Terlebih suami?</p>
<p>Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara 8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster) bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi dirumah anda?</p>
<p>Bukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang. Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang psikolog di Australia ada diantara mereka yang harus membayar $100 perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.</p>
<p>Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda?</p>
<p>Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal yang berbunyi:</p>
<p>    ”Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban tayyibul ‘araq” maknanya “seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang unggul”.</p>
<p>Ditangan ibulah masa depan generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.2</p>
<p>Karena Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti?? Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam bisshawwab.</p>
<p>Muraja’ah oleh: Ustadz Eko Hariyanto Lc<br />
Catatan Kaki:< br /></p>
<p>   1. Tak jarang para orang tua ada yang harus menunggu selama 1 tahun karena penuh dan banyaknya antrian (waiting list) dari tahun sebelumnya. [↩]<br />
   2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, ada seorang yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam seraya bertanya :”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: Ibumu! Orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa?” Ibumu! Jawab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang itu, Beliaupun menjawab: Ibumu!, Selanjutnya bertanya:”Lalu siapa?” Beliau menjawab: Ayahmu” (Mutaffaqun Alaih).</p>
<p>      Imam Nawawi mengatakan; Hadits tersebut memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat dan yang paling berhak mendapatkannya diantara mereka adalah ibu, lalu ayah dan selanjutnya orang-orang terdekat.</p>
<p>      Didahulukannya ibu dari mereka itu karena banyaknya pengorbanan, pengabdian, kasih sayang yang telah diberikannya. Dan, karena seorang ibu telah mengandung, menyusui, mendidik, dan tugas lainnya” tutur para ulama (lihat Al-Jami’ Fi fiqh Nisa bab birru walidain Syaikh Kamil ‘Uwaidah). [↩]</p>
<p>Artikel : jilbab.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/10/menjadi-ibu-rumah-tangga-mengapa-harus-malu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Hiasi Dirimu dengan Malu&#8221;</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/10/hiasi-dirimu-dengan-malu/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/10/hiasi-dirimu-dengan-malu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 06:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu, saudariku… Malu, demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat malu yang ada pada dirimu! Karena apa? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari iman. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu, saudariku… Malu, demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat malu yang ada pada dirimu! Karena apa? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari iman.</p>
<p>Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sangat pemalu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu adalah bagian dari Iman.” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Hakikat rasa malu itu adalah sebuah akhlak yang memotivasi diri untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan membentengi diri dari kecerobohan dalam memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Seorang muslimah akan menjauhkan dirinya dari larangan Allah dan selalu menaati Allah disebabkan rasa malunya kepada Allah yang telah memberikan kebaikan padanya yang tidak terhitung.</p>
<p><strong>Perintah yang Dibawa oleh Setiap Nabi</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Yang dimaksud dengan “kalimat kenabian terdahulu” ialah bahwa rasa malu merupakan akhlaq yang terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari’at para nabi sejak dahulu.</p>
<p>Dalam hadits ini disebutkan, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Kalimat ini mengandung 3 pengertian, yaitu:</p>
<p>   1. Berupa perintah: Jika perbuatan tersebut tidak mendatangkan rasa malu, maka lakukanlah. Karena perbuatan yang membuat rasa malu jika diketahui orang lain adalah perbuatan dosa.<br />
   2. Berupa ancaman dan peringatan keras: Silahkan kamu melakukan apa yang kamu suka, karena azab sedang menanti orang yang tidak memiliki rasa malu. Berbuat sesuka hati, tidak peduli dengan orang lain.<br />
   3. Berupa berita: Lakukan saja perbuatan buruk yang kamu tidak malu untuk melakukannya.</p>
<p><strong>Malu? Siapa yang punya?</strong></p>
<p>Sifat malu ada dua macam, yaitu:</p>
<p>1. Malu yang merupakan watak asli manusia</p>
<p>Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memiliki sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu’anhu: “Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>2. Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)</p>
<p>Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”</p>
<p><strong>Hati-Hati terhadap Malu yang Tercela</strong></p>
<p>Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu yang disebut malu tercela, yaitu malu yang menjadikan pelakunya mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya dia beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Di antara malu yang tercela adalah malu bertanya masalah agama, tidak menunaikan hak-hak secara sempurna, tidak memenuhi hak yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk hak kaum muslimin.</p>
<p>Nah, saudariku, kini engkau tahu! Meskipun malu adalah tabiat dasar seorang wanita, sifat ini tidak boleh menghalangimu untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan sampai engkau menjadi wanita yang paling mulia di sisi Allah! Wallahu a’lam.</p>
<p>Penulis: Ummu Salamah Farosyah<br />
Maraaji’:</p>
<p>   1. Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi<br />
   2. Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2 Imam Nawawi, Takhrij: Syaikh M. Nashiruddin Al-Albani.<br />
   3. Buletin Tuhfatun Nisa: Rufaidah.</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/10/hiasi-dirimu-dengan-malu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Berhias</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/10/indahnya-berhias/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/10/indahnya-berhias/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 06:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah kos putri… “Yanti subhanallah, mau pesta kemana?” Tatap seorang temannya tak berkedip pada Yanti yang berdandan tebal bak artis. Yanti menjawab, “Kamu berlebihan deh. Yanti mau ikut pengajian bareng temen-temen, jadi harus bersih dan rapi. Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Berangkat dulu ya. Assalaamu’alaykum…” Setelah Yanti pergi, ada suara heboh Riri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah kos putri…<br />
“Yanti subhanallah, mau pesta kemana?” Tatap seorang temannya tak berkedip pada Yanti yang berdandan tebal bak artis. Yanti menjawab, “Kamu berlebihan deh. Yanti mau ikut pengajian bareng temen-temen, jadi harus bersih dan rapi. Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Berangkat dulu ya. Assalaamu’alaykum…”</p>
<p>Setelah Yanti pergi, ada suara heboh Riri yang hendak pergi juga. “Duh Riri tetangga kamarku yang baru pulang dari kampus. Kucel amat. Lho… lho… Ini mo pergi lagi ya, gak mau bersihin wajah dan rapiin bajumu dulu?” Riri menjawab, “Nanti menyebar fitnah lho. Wanita itu kan ujian bagi laki-laki. Riri berangkat ta’lim ya. Assalaamu’alaykum…”</p>
<p>Sepenggal kisah di atas banyak kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak sekali wanita berhias di luar rumahnya dengan alasan kerapian dan kebersihan, sementara di sisi lain banyak juga yang sama sekali tidak memperhatikan penampilannya dengan alasan menjaga kehormatan muslimah. Tahukah saudariku bahwa Islam memiliki tuntunan dalam berhias? Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”<br />
</em><br />
Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al Handhalliyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara mereka,</p>
<p><em>“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)<br />
</em><br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkategorikan kondisi dan pakaian yang tidak bagus sebagai suatu hal yang buruk. Semuanya itu termasuk hal yang dibenci oleh Islam. Islam mengajak kaum muslimin secara keseluruhan untuk selalu berpenampilan bagus. Bertolak dari hal itu, seorang muslimah tidak boleh mengabaikan dirinya dan bersikap tidak acuh terhadap penampilan yang rapi dan bersih, terlebih lagi jika sudah membina rumah tangga. Hendaknya ia senantiasa berpenampilan yang baik dengan tidak berlebih-lebihan.</p>
<p>Muslimah yang cerdas akan senantiasa menyelaraskan antara lahir dan batin. Perhatiannya pada penampilan yang baik bersumber dari pemahaman yang baik pula terhadap agamanya. Karena penampilan yang rapi dan bersih merupakan hal yang mulia. Lalu, bagaimanakah tuntunan Islam dalam berhias?</p>
<p><strong>Kebersihan badan adalah kuncinya.<br />
</strong><br />
Sudah seharusnya seorang wanita menjaga kebersihan badannya dengan mandi. Dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Dari Abi Rofi’, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberap istrinya (untuk menunaian hajatnya), maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka Abu Rofi’ bertanya, ‘Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?’ Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ini lebih suci dan lebih bersih.’” (Ibnu Majah dan Abu Daud, derajat haditsnya hasan)</p>
<p>Mandi dapat menghilangkan kotoran sehingga menjauhkan seorang muslimah dari penyakit dan menjaga agar badannya tidak bau. Sehingga ia pun akan menjadi dekat dengan orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Hendaklah seorang wanita juga menjaga hal-hal yang termasuk fitrah yaitu memotong kuku dan memelihara kebersihannya agar tidak panjang atau kotor. Kuku yang panjang akan tampak buruk dipandang, menyebabkan menumpuknya kotoran di bawah kuku dan mengurangi kegesitan pemiliknya dalam bekerja.</p>
<p>Hal lain yang termasuk fitrah adalah mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Hal ini sangat dianjurkan dalam Islam, selain dapat menjaga kebersihan dan keindahan tubuh seorang muslimah. Oleh karenanya, seorang muslimah hendaknya tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.Dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): mencukur bulu kemaluan, khitan, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku.” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Perhatikanlah mulut karena dengannya engkau berdzikir dan berbicara kepada manusia.</p>
<p>Wanita muslimah hendaknya selalu menjaga kebersihan mulutnya dengan cara membersihkan giginya dengan siwak atau sikat gigi dan alat pembersih lain jika tidak ada siwak. Bersiwak dianjurkan dalam setiap keadaan dan lebih ditekankan lagi ketika hendak berwudhu’, akan shalat, akan membaca Al Qur’an, masuk ke dalam rumah dan bangun malam ketika hendak shalat tahajjud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Selain itu, hendaknya seorang muslimah menjaga mulutnya dari bau yang tidak sedap.</p>
<p>“Barangsiapa yang makan bawang merah dan bawang putih serta kucai, maka janganlah dia mendekati masjid kami.” (HR. Muslim)</p>
<p>Karena bau yang tidak sedap mengganggu malaikat dan orang-orang yang hadir di dalam masjid serta mengurangi konsentrasi dalam berdzkikir. Maka hendaknya seorang muslimah juga menjaga bau mulutnya di mana pun ia berada.</p>
<p><strong>Rawatlah keindahan mahkotamu.<br />
</strong><br />
Sudah seharusnya seorang muslimah menjaga keindahan rambutnya karena rambut merupakan mahkota seorang wanita. Dan hendaknya dia menjaga kebersihan, menyisir, merapikan dan memperindah bentuknya.</p>
<p><em>“Barangsiapa yang memiliki rambut maka hendaklah dia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud)</em></p>
<p><strong>Kebersihan pakaian tidak pantas diabaikan.</strong></p>
<p>Islam menyukai orang yang menjaga kebersihan pakaiannya dan tidak menyukai orang yang berpakaian kotor padahal ia mampu mencuci dan membersihkannya. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, lalu beliau melihat seorang laki-laki yang mengenakan pakaian kotor, maka beliau pun bersabda,</p>
<p>“Orang ini tidak mempunyai sabun yang dapat digunakan untuk mencuci pakaiannya.” (HR. Imam Ahmad dan Nasa’i).</p>
<p>Jika petunjuk nabi ini ditujukan pada laki-laki, maka terlebih lagi pada wanita karena ia memegang peranan penting dalam rumah tangganya.</p>
<p><strong>Perbaikilah penampilan.<br />
</strong><br />
Hendaklah seorang muslimah memperbaiki penampilannya untuk menampakkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah senang melihat tanda nikmat yang diberikan kepada hamba-hambaNya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)<br />
</em><br />
Seorang muslimah diperbolehkan untuk menghiasi dirinya dengan hal-hal yang mubah misalnya mengenakan sutra dan emas, mutiara dan berbagai jenis batu permata, celak, menggunakan inai (pacar) pada kuku dan menyemir rambut yang beruban, menggunakan kosmetik alami atau kosmetik yang tidak mengandung zat berbahaya dengan tidak berlebihan. Dan tentu saja berhias di sini bukanlah dengan maksud mempercantik diri di hadapan lelaki yang bukan mahramnya.</p>
<p>Hal yang dapat membantu memperbaiki penampilan seorang muslimah adalah memakan makanan yang bergizi serta tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum.</p>
<p><em>“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al A’raf: 31)<br />
</em><br />
Selain itu juga rajin berolahraga dapat bermanfaat untuk menjaga stamina dan keindahan tubuh serta mempercantik kulit seorang muslimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan yang baik dalam hal ini, beliau pernah mengajak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk lomba lari (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Thabrani)</p>
<p><strong>Janganlah tabarruj.</strong></p>
<p>Berhias bagi wanita ada 3 macam, yaitu berhias untuk suami, berhias di depan wanita dan lelaki mahram (orang yang haram dinikahi), dan berhias di depan lelaki bukan mahram.</p>
<p>Berhias untuk suami hukumnya dianjurkan dan tidak memiliki batasan. Berhias di hadapan wanita dan lelaki mahram dibolehkan tetapi dengan batasan tidak menampakkan aurat dan boleh menampakkan perhiasan yang melekat pada selain aurat. Di mana aurat wanita bagi wanita lain adalah mulai pusar hingga lutut[*] sedangkan aurat wanita di hadapan lelaki mahram adalah seluruh tubuh kecuali muka, kepala, leher, kedua tangan dan kedua kaki. Berhias di depan lelaki bukan mahram hukumnya haram dan inilah yang disebut dengan tabarruj.</p>
<p>[*] Demikianlah pendapat banyak ulama. Namun menurut Syaikh Al Albani, pendapat ini tidak ada dalilnya, sehingga aurat di depan wanita sama dengan aurat di hadapan mahram.</p>
<p><strong>Jauhilah cara berhias yang dilarang oleh Islam.<br />
</strong><br />
Tidak diperbolehkan untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:</p>
<p>1. Memotong rambut di atas pundak karena menyerupai laki-laki, kecuali dalam kondisi darurat.</p>
<p>“Aku terbebas dari wanita yang menggundul rambut kepalanya, berteriak dengan suara keras dan merobek-robek pakaiannya (ketika mendapat musibah).” (HR. Muslim)</p>
<p>2. Menyambung rambut.</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut lain dan wanita yang meminta agar rambutnya disambung.” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>3. Menghilangkan sebagian atau seluruh alis.</p>
<p>Tertera dalam Shahih Muslim bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallau ‘anhu berkata, “Allah melaknat wanita yang mentato bagian-bagian dari tubuh dan wanita yang meminta untuk ditato, wanita yang mencukur seluruh atau sebagian alisnya dan wanita yang meminta untuk dicukur alisnya, dan wanita yang mengikir sela-sela gigi depannya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla.”</p>
<p>4. Mengikir sela-sela gigi, yaitu mengikir sela-sela gigi dengan alat kikir sehingga membentuk sedikit kerenggangan untuk tujuan mempercantik diri.</p>
<p>5. Mentatto bagian tubuhnya.</p>
<p>6. Menyemir rambut dengan warna hitam.</p>
<p>“Pada akhir zaman akan ada suatu kaum yang mewarnai (rambutnya) dengan warna hitam seperti dada burung merpati, mereka tidak akan mencium baunya surga.” (Shahih Jami’ush Shaghir no. 8153)</p>
<p><strong>Berhati-hati dalam memilih cara berhias.<br />
</strong><br />
Sesungguhnya cara berhias sangatlah banyak dan beragam. Hendaknya seorang muslimah berhati-hati dalam memilih cara berhias, di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Tidak boleh menyerupai laki-laki.</p>
<p>“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat seorang wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Abu Daud)</p>
<p>2. Tidak boleh menyerupai orang kafir.</p>
<p>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)</p>
<p>3. Tidak boleh berbentuk permanen sehingga tidak hilang seumur hidup misalnya tatto dan tidak mengubah ciptaan Allah misalnya operasi plastik. Hal ini disebabkan termasuk hasutan setan sebagaimana diceritakan oleh Allah,</p>
<p>“Dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah dan mereka pun benar-benar melakukannya.” (Qs. An Nisa: 119)</p>
<p>4. Tidak berbahaya bagi tubuh.</p>
<p>5. Tidak menghalangi air untuk bersuci ke kulit atau rambut.</p>
<p>6. Tidak mengandung pemborosan atau membuang-buang uang.</p>
<p>7. Tidak membuang-buang waktu sehingga kewajiban lain terlalaikan.</p>
<p>8. Penggunaannya jangan sampai membuat wanita sombong, takabur, membanggakan diri dan tinggi hati di hadapan orang lain.</p>
<p><strong>Wanita santun lebih baik daripada wanita pesolek.</strong></p>
<p>Kita tahu banyak wanita yang berdandan secara berlebihan dan bepergian keluar rumah tanpa mengenal batas waktu dengan mengatasnamakan ‘Inilah rupa kemajuan dan modernitas’.</p>
<p>Sesungguhnya kemajuan dan modernitas bukanlah dengan menentang perintah dan larangan Allah. Ketahuilah Allah Maha Tahu apa yang baik dan buruk untuk hambaNya. Mengikuti kemajuan adalah mengambil hal-hal bermanfaat yang dapat memajukan umat dan membantu kita untuk hidup lebih baik. Dan kita harus memandangnya dari kaca mata kebenaran. Kita mengambil hal-hal yang sesuai tuntunan Islam dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam.</p>
<p>Jauhilah berhias yang dilarang oleh syari’at, wahai saudariku. Sungguh wanita yang keluar rumah dengan penampilan yang berlebihan sebenarnya dia melemparkan dirinya ke dalam api neraka. Sedangkan wanita yang menghiasi jiwanya dengan kesantunan dan berhias sesuai tuntunan Islam adalah wanita yang menempatkan dirinya pada tempat yang mulia.Wallahu a’lam.</p>
<p>Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman<br />
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman &#038; Ustadz Aris Munandar</p>
<p>Maraji’:</p>
<p>   1. Indahnya Berhias (Muhammad bin Abdul Aziz al Musnid)<br />
   2. Sentuhan Nilai Kefikihan untuk Wanita Beriman (Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Bin Abdullah al Fauzan)<br />
   3. Jati Diri Wanita Muslimah (Dr. Muhammad Ali al Hasyimi), Ensiklopedi Wanita Muslimah (Haya binti Mubarok al Barik)<br />
   4. Al Wajiz (’Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi)<br />
   5. Kenikmatan yang Membawa Bencana (Jamal bin Abdurrahman bin Ismail)<br />
   6. 40 Hadits tentang Wanita beserta Syarahnya (Manshur bin Hasan al Abdullah)<br />
   7. Manajemen Wanita Sholehah (Khalid Mustafa)<br />
   8. Note: Baca juga: Etika Berhias, karya Amru Abdul Mun’im Salim terbitan at Tibyan.</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/10/indahnya-berhias/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topeng Emansipasi</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/10/topeng-emansipasi/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/10/topeng-emansipasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 05:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Emansipasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa baiknya wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran dan partisipasi seorang wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah gariskan maka ia bagaikan batu-bata yang baik bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa baiknya wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran dan partisipasi seorang wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah gariskan maka ia bagaikan batu-bata yang baik bagi bangunan masyarakat Islam. Namun jika ia telah menyimpang dari syari’at yang Allah tetapkan, maka ia ibarat pedang yang akan merusak dan menghancurkan umat.</p>
<p><strong>Emansipasi Wanita</strong></p>
<p>Musuh-musuh Islam sangat paham bahwa peran wanita muslimah sangat penting dalam membangun masyarakat Islam. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha menyerang Islam melalui kaum wanitanya. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menghancurkan wanita muslimah melalui “emansipasi”. Mereka menamakan emansipasi sebagai gerakan yang membebaskan wanita dari kezhaliman dan untuk memenuhi hak-hak mereka secara adil (menurut mereka) –dengan slogan toleransi, kebebasan wanita, persamaan gender, dan sebagainya.</p>
<p>Namun ketahuilah wahai Saudariku, emansipasi tumbuh dari sistem sekuler yang memisahkan antara kehidupan dan nilai agama. Mereka menginginkan wanita menjadi pesaing bagi laki-laki dan memperebutkan kedudukan dengan kaum laki-laki. Wanita dalam konsep mereka ibarat barang dagangan yang dipajang di etalase, yang siap dijadikan tontonan bagi para hamba syahwat dan menjadi budak nafsu mereka. Na`udzubillah, mereka juga berusaha menjauhkan wanita dari hijab dan rumah-rumah mereka, mengabaikan pengasuhan anak dengan mengatakan bahwa mengasuh anak tidak mendatangkan materi, membunuh kreatifitas dan menghambat potensi sumber daya manusia kaum wanita. Coba kita perhatikan, betapa menyedihkannya pemikiran mereka ini yang memandang baik buruknya kehidupan dari sudut pandang materi.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka lontarkan. Mungkin secara sepintas, wacana emansipasi mampu menjawab problematika wanita dan mengangkat harkatnya tapi tidaklah mungkin itu diraih dengan mengorbankan kehormatan dan harga diri wanita. Sungguh, tak akan bisa disatukan antara yang haq dengan yang bathil. Mereka tidaklah ingin membebaskan wanita dari kezhaliman tetapi sesungguhnya merekalah yang ingin bebas menzhalimi wanita!!!</p>
<p><strong>Wanita Dalam Islam<br />
</strong><br />
Islam benar-benar memperhatikan peran wanita muslimah, karena di balik peran mereka inilah lahir pahlawan dan pemimpin agung yang mengisi dunia dengan hikmah dan keadilan. Wanita begitu dijunjung dan dihargai perannya baik ketika menjadi seorang anak, ibu, istri, kerabat, atau bahkan orang lain.</p>
<p>Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,</p>
<p>“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dalam “Adabul Mufrod”: 76, dan Ahmad: 4/154 dengan sanad shahih, lihat “Ash-Shahihah: 294).</p>
<p>Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, dan dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tiga kali baru kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah. Dari Abu Hurairah berkata,</p>
<p>“Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk menerima perbuatan baik dari saya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab, ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhori: 5971, Muslim: 2548)</p>
<p>Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat-19 yang artinya:</p>
<p>“…Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik…”</p>
<p>Dan saat wanita menjadi kerabat atau orang lain pun Islam tetap memerintahkan untuk mengagungkan dan menghormatinya. Banyaknya pembahasan tentang wanita di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan kemuliaan mereka. Karena sesuatu yang banyak dibahas dan mendapat banyak perhatian tentunya adalah sesuatu yang penting dan mulia. Lalu masih adakah yang berani mengatakan bahwa Islam menzhalimi wanita?!</p>
<p>Wahai saudariku, demikianlah syari’at Islam menempatkan wanita di singgasana kemuliaan. Adapun di zaman sekarang, kenyataan yang terjadi di masyarakat sungguh jauh dari itu semua. Penyebabnya tidak lain adalah karena jauhnya umat Islam dari pemahaman yang benar terhadap agama mereka. Seringkali ada orang yang menjadikan kesalahan orang lain sebagai hujjah (argumentasi) baginya untuk turut berbuat kesalahan yang sama. Terkadang pula orang-orang menilai syari’at Islam dari perilaku orang-orang yang menyatakan bahwa mereka beragama Islam, namun pada hakekatnya perilaku mereka belumlah menggambarkan yang demikian. Oleh karena itu wahai Saudariku, janganlah menjadikan perilaku manusia sebagai dalil. Jadikanlah Al-Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman para shahabat sebagai petunjuk bagi kita. Sungguh kita berlindung kepada Allah dari butanya hati dan akal dari kebenaran. Wallahul musta’an.</p>
<p>Penyusun: Ummu Khadijah dan Ummul Hasan<br />
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar</p>
<p>Dinukil dari:<br />
Artikel “Keagungan Wanita Dalam Naungan Islam” (sumber: Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 9 Rabi’uts Tsani 1428 H)<br />
Buku “Emansipasi Wanita” karya Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid<br />
Buku “Wanita-wanita Teladan Di Masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dengan perubahan seperlunya.</p>
<p>***</p>
<p>Artikel muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/10/topeng-emansipasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya Belanja, Jangan Sampai Lupa…</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/10/asyiknya-belanja-jangan-sampai-lupa%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/10/asyiknya-belanja-jangan-sampai-lupa%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 04:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tak kenal aktivitas yang satu ini? Dari anak kecil hingga lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita pasti mengenalnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang tergila-gila belanja atau shopping hingga mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di mall, supermarket, swalayan atau bahkan pasar. Belanja memang merupakan kebutuhan yang mengharuskan wanita untuk keluar dari rumahnya. Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tak kenal aktivitas yang satu ini? Dari anak kecil hingga lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita pasti mengenalnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang tergila-gila belanja atau shopping  hingga mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di mall, supermarket, swalayan atau bahkan pasar. Belanja memang merupakan kebutuhan yang mengharuskan wanita untuk keluar dari rumahnya.</p>
<p>Islam tidak melarang wanita untuk keluar dari rumahnya karena pada asalnya keluar rumah adalah dibolehkan sebagaimana suatu kaidah, “Hukum sarana yang mubah itu tergantung tujuannya.” Begitu pula, keluar untuk berbelanja, baik ke pasar maupun ke pusat-pusat perbelanjaan lainnya merupakan suatu hal yang terkadang sulit untuk dihindari. Namun kaidah ini hanya berlaku apabila keluar rumah menjadi suatu kebutuhan yang mendesak atau sangat penting. Tentu saja tanpa melupakan hal-hal penting yang harus dipenuhi ketika seorang muslimah keluar dari rumahnya, seperti menutup aurat, tidak berhias (tabaruj), tidak campur baur laki-laki dan perempuan, dll.</p>
<p>Jika kita ingat pelajaran ekonomi, kita akan banyak bertemu dengan kata pasar. Istilah pasar didefinisikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam rangka melakukan transaksi jual beli. Tentu saja kita mengetahui bahwa ketika ada aktivitas jual beli, maka di sana terdapat akad atau perjanjian antara si penjual dengan pembeli yang dinamakan ijab dan qabul. Lalu apa hubungannya akad ini dengan belanja? Tentu saja ada hubungannya. Akad inilah yang akan menentukan sah atau tidaknya jual beli yang kita lakukan.</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr As-Sa’di dalam kitab beliau Manhajus Salikiin (Bab Kitab Jual-Beli hal. 139) menyebutkan bahwa asal dari hukum jual beli adalah halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Qs. Al-Baqarah: 275)</p>
<p>Jual beli adalah sesuatu yang dihalalkan oleh Allah apabila terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:</p>
<p>   1. Keridhaan kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli<br />
   2. Barang yang diperjualbelikan dapat diserahterimakan<br />
   3. Pelaku jual beli adalah orang yang memenuhi syarat, yaitu baligh dan melakukannya dengan sadar atau tidak gila.<br />
   4. Tidak mengandung unsur riba<br />
   5. Tidak memperjualbelikan sesuatu yang haram secara syar’i</p>
<p><strong>Hati-hati, Ada Setan!</strong></p>
<p>Kita dapat menyaksikan segala kejelekan di pasar dengan penglihatan dan pendengaran kita. Begitu kita masuk pasar, maka ucapan-ucapan kasar bahkan umpatan penjual yang dagangannya tidak jadi dibeli akan mampir di telinga kita. Sepanjang perjalanan kita akan mengetahui ada saja orang yang menipu demi mendapatkan keuntungan. Pembeli akan berkata, “Tadi saya membeli di penjual A dengan harga empat ribu, kok di sini enam ribu!” padahal penjual A tidak menjual dagangannya dengan harga empat ribu tapi tujuh ribu rupiah dan si pembeli ini tidak pernah menawar dagangan si A.</p>
<p>Tidak hanya pembeli yang ingin ambil untung, penjual pun tak kalah taktik. “Tapi mangga saya kan besar-besar dan dijamin manis! Boleh dicobain kok!” Padahal semua mangganya karbitan dan ketika si pembeli mencicipi mangganya dipilihkan sampel yang manis dan tidak mewakili dagangannya. Akhirnya sampai di rumah pembeli merasa tertipu dan dirugikan. Intinya, mereka benar-benar berusaha menerapkan prinsip ekonomi “Meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya”. Mereka tak peduli lagi meski aktivitas yang semula halal berubah menjadi haram akibat menabrak rambu-rambu syari’at. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “</p>
<p>Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (Qs. Muthaffifin: 1-2)</p>
<p>“Itu kan di pasar,” mungkin ini pernyataan sebagian orang. Tapi, siapa bilang di mall, di supermarket atau toko kecil sekalipun setan tidak akan mengambil peran? Ketika kita berjalan-jalan di mall atau supermarket, tak jarang kita melihat wanita-wanita muda berdandan cantik dan dengan PD-nya berlenggang mengenakan busana yang serba “irit”. Pemandangan ini saja sudah cukup mengganggu kita sebagai wanita, apalagi bagi laki-laki! Sering dalam hati terbetik, sungguh kasihan saudari-saudari kita ini yang tanpa sadar telah sukarela mempersilahkan laki-laki melihat kecantikan mereka dan menjadikan mereka sebagai obyek. Mungkin ada yang berdalih, “Ah, itu kan tergantung orangnya!” Namun yang jelas, hati laki-laki mana yang tidak akan tergoda?? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “</p>
<p>Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59)</p>
<p><strong>Terlupa Karena Asyiknya Berbelanja<br />
</strong><br />
Islam adalah agama yang penuh hikmah serta kesempurnaan, sehingga Rasulullah pun telah mengajarkan kepada kita berbagai etika dalam kehidupan, bahkan adab ketika di pasar.</p>
<p>   1. Hendaknya senantiasa berdzikir kepada Allah di saat masuk pasar. Sebagai seorang muslimah, tentunya keseharian kita tidak boleh lepas dari do’a. Bahkan Allah telah memerintahkan kita untuk berdo’a dan menyebut orang yang enggan berdo’a sebagai orang yang sombong (Qs. Al-Mu’min: 60).Rasulullah juga bersabda, “Do’a itu bermanfaat terhadap apa yang menimpa atau yang belum menimpa. Oleh karena itu wahai sekalian hamba Allah, hendaklah kalian berdo’a.” (HR. At-Tirmidzi). Nah, ketika kita hendak berbelanja ada banyak pahala yang dapat kita raup melalui do’a dalam sekali perjalanan saja. Dimulai dengan do’a keluar rumah, do’a naik kendaraan hingga do’a masuk pasar. Adapun do’a masuk pasar yaitu:</p>
<p>      لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ</p>
<p>      “Tiada ilah yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dan, Dia Maha Hidup Kekal, tidak pernah mati. Di tangan-Nyalah segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”</p>
<p>      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang masuk pasar, lalu mengucapkan do’a (tersebut), maka Allah akan mencatat satu juta kebaikan baginya dan akan menghapus satu juta keburukan baginya, dan akan mengangkat derajatnya satu juta tingkatan.” (HR. Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)</p>
<p>      Majdi bin ‘Abdul Wahhab Al-Ahmad dalam Syarh Hisnul Muslim-nya menjelaskan maksud dari “dan akan mengangkat derajatnya satu juta tingkatan” yaitu orang tersebut akan mendapatkannya di surga. Sedangkan maksud dari “diangkatnya derajat” adalah kedudukannya setelah membaca do’a lebih tinggi dari kedudukannya sebelum membaca do’a tersebut.<br />
   2. Tidak menyaringkan suara dengan berbagai pertengkaran dan perdebatan.<br />
      Di antara sifat kepribadian Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah bahwasanya beliau bukanlah seorang yang keras kepala atau keras hati dan bukan pula orang yang suka teriak-teriak di pasar dan juga bukan orang yang membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi ia memaafkan dan mengampuni (HR. Al-Bukhari)<br />
   3. Menjaga kebersihan pasar. Pasar tidak boleh dicemari dengan kotoran dan sampah, karena hal tersebut dapat melumpuhkan arus jalanan dan menjadi sumber bau busuk yang mengganggu.<br />
   4. Menjaga agar selalu memenuhi akad dan janji serta kesepakatan-kesepakatan di antara dua belah fihak (pembeli dan penjual). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (Qs. Al-Ma’idah: 1)<br />
   5. Mengukuhkan jual beli dengan persaksian atau catatan (dokumentasi). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli.” (Qs. Al-Baqarah: 282)<br />
   6. Bersikap longgar dan memberikan kemudahan di dalam proses jual beli.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah akan belas kasih kepada seorang hamba yang bersikap longgar apabila menjual, bersikap longgar apabila membeli dan bersikap longgar apabila membayar hutang.” (HR. Al-Bukhari)<br />
   7. Jujur, terbuka dan tidak menyembunyikan cacat barang jualan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, maka tidak halal bagi seorang muslim membeli dari saudaranya suatu pembelian yang ada cacatnya kecuali telah dijelaskannya terlebih dahulu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)<br />
   8. Jangan mudah mengobral sumpah di dalam berjual beli. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Hindarilah banyak bersumpah di dalam berjual-beli, karena sumpah itu dapat melariskan barang dagangan kemudian menghilangkan barakahnya.” (HR. Muslim)<br />
   9. Menghindari penipuan, kecurangan dan pengkaburan serta berlebih-lebihan di dalam menarik keuntungan.Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah menjumpai setumpuk gandum, maka Nabi memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut, maka jari-jemarinya basah. Maka beliau bersabda, “Apa ini, wahai si pemilik makanan?” Pemilik makanan menjawab, “Terkena hujan, wahai Rasulullah.” Maka Nabi bersabda, “Kenapa bagian yang basah tidak kamu letakkan di paling atas agar dilihat oleh manusia? Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)<br />
  10. Menghindari perbuatan curang di dalam menakar atau menimbang barang dan tidak menguranginya. Allah berfirman, yang artinya, “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Qs. Al-Muthaffifin: 1-3)<br />
  11. Menghindari riba, penimbunan barang dan segala perbuatan yang dapat merugikan orang banyak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah mengutuk (melaknat) pemakan riba, pemberinya, saksi dan penulisnya.” (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani). Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan menimbun barang kecuali orang yang salah.” (HR. Muslim)<br />
  12. Membersihkan pasar dari segala barang yang haram diperjual belikan.<br />
  13. Menghindari promosi-promosi palsu yang bertujuan menarik perhatian pembeli dan mendorongnya untuk membeli, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah melarang najasy (Muttafaqun’alaih). Najasy adalah semacam promosi palsu.<br />
      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (Qs. Al-Nisa: 29)<br />
  14. Hindarilah penjualan barang rampasan (hasil ghashab) dan curian.<br />
  15. Menundukkan pandangan mata dari wanita dan menghindar dari percampurbauran dan berdesak-desakan dengan mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (Qs. An-Nur: 30-31)<br />
  16. Selalu menjaga syi’ar-syi’ar agama (shalat berjama’ah, dll), tidak melalaikan shalat berjama’ah karena berjual-beli. Maka sebaik-baik manusia adalah orang yang keduniaannya tidak membuatnya lalai terhadap masalah-masalah akhiratnya atau sebaliknya. Allah berfirman, yang artinya, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat.” (Qs. An-Nur: 37). Pada intinya, ketika berada di pusat perbelanjaan mata kita akan disuguhi dengan pemandangan yang serba menarik. Barang-barang yang bagus, bahkan orang-orang yang berpenampilan menarik menggoda hati-hati yang lalai. Maka tak heran jika setan pun betah berada di tempat-tempat seperti ini.<br />
Nah, supaya aktivitas belanja kita lebih efektif dan bermanfaat, ada beberapa tips yang mungkin dapat membantu.</p>
<p><em>Tips 1. Perhatikan penampilan</em></p>
<p>Ada sebagian wanita yang menjadikan shopping atau berbelanja sebagai sarana untuk ngeceng. Demi mendapatkan perhatian dari orang-orang, mereka rela duduk di depan kaca selama berjam-jam dan memoles dirinya agar terlihat cantik. Maka tidak mengherankan apabila mereka tidak merasa takut atau risih, namun justru akan tersenyum bangga ketika laki-laki menggoda mereka karena dandanan mereka yang aduhai. Bertaqwalah wahai kaum wanita! Sesungguhnya setan telah menemukan banyak celah untuk menggoda manusia melalui dirimu. Jangan sampai engkau buat dirimu yang begitu berharga dan mulia tercampak menjadi sekerat daging yang hina.</p>
<p>Jangan salahkan apabila laki-laki tidak menghargaimu karena engkau pun tidak menghargai dirimu. Janganlah engkau ceroboh, sesungguhnya kecantikanmu hanya akan ditemukan oleh laki-laki fasik bila engkau mengumbarnya di mana-mana. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengan syari’at-Nya. Hendaknya kita jaga diri kita dengan berhijab yang benar karena hijab itulah yang akan menyelamatkan kita dari pandangan khianat laki-laki yang tidak bertaqwa. Jangan lupa pula untuk membawa make-up kita yang paling berharga, yaitu malu. Sungguh make-up ini akan membantu menjaga diri kita. Wallahul musta’an.</p>
<p><em>Tips 2. Buat daftar belanjaan yang akan dibeli</em></p>
<p>Sebelum kita memutuskan untuk keluar rumah, jangan lupa membuat daftar barang-barang yang akan kita beli. Alangkah baiknya jika kita tengok terlebih dahulu kebutuhan apa saja yang habis sehingga bisa kita masukkan ke dalam daftar belanjaan kita. Setelah itu, kita dapat membuat daftar kebutuhan kita dalam jangka panjang, misalnya kebutuhan untuk sepekan, dua pekan atau bahkan bulanan. Dengan demikian, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk mondar-mandir ke pasar atau supermarket setiap hari.</p>
<p>Daftar belanjaan juga akan membantu mengingatkan kita jika ada barang yang lupa dibeli, selain itu juga menghindarkan kita dari belanja barang-barang yang terlihat begitu menarik ketika di toko, namun ternyata ketika sampai di rumah kita bingung sendiri, mau diapakan barang tersebut.</p>
<p><em>Tips 3. Jangan bawa uang berlebih!</em></p>
<p>Peringatan untuk wanita yang hobi berbelanja! Jangan sekali-kali membawa uang lebih dari perkiraan harga seluruh belanjaan dalam list kita. Kalaupun membawanya, usahakan secukupnya saja sebagai jaga-jaga jikalau terjadi sesuatu dalam perjalanan. Membawa uang terlalu banyak akan merepotkan bagi kita yang mudah tergoda dengan barang-barang yang menarik. Apabila uang yang kita bawa hanya cukup untuk membeli barang yang kita perlukan, tentunya kita tidak mungkin akan membeli barang-barang lainnya.</p>
<p><em>Tips 4. Jangan lupa berdo’a!<br />
</em><br />
<em>Tips 5. Jagalah pandangan</em></p>
<p>Rumah adalah sebaik-baik tempat perlindungan bagi kaum wanita. Oleh karena itu, apabila wanita keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya sehingga tampak begitu menarik hati. Namun bukan berarti kaum wanita akan terhindar dari godaan sementara setan menempatkannya sebagai penggoda. Sesungguhnya wanita adalah saudara laki-laki, apa yang membuat saudaranya terfitnah maka hal itu juga dapat menimpanya.</p>
<p>Jangan disangka hanya laki-laki saja yang dapat terfitnah oleh wanita, sesungguhnya setan dapat menancapkan panahnya pada setiap manusia yang lemah hatinya. Demikian pula halnya dengan wanita yang dapat terfitnah oleh laki-laki disebabkan pandangan mata. Sedangkan laki-laki mungkin pula hatinya tertimpa fitnah disebabkan pandangan mata wanita tersebut terhadapnya. Allah berfirman, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (Qs. An-Nuur: 31)</p>
<p><em>Tips 6. Bekali diri dengan ilmu dan sabar</em></p>
<p>Sebagai seorang muslimah, tentunya kita harus mendasarkan segala perbuatan kita dengan ilmu agama. Demikian pula ketika berbelanja kita membutuhkan ilmu agar hak penjual maupun hak kita sebagai pembeli dapat terpenuhi. Selain itu, di jaman sekarang ini kita juga sering mendengar adanya produk-produk yang dijual di pasaran yang ternyata tidak jelas kehalalannya.</p>
<p>Tidak hanya bermasalah dengan keadaan barang dagangan, terkadang kita juga harus berhadapan dengan penjual yang kurang ramah dan wajah bersungut-sungut. Wajar hati merasa kesal, namun merupakan suatu keutamaan menjadikan sabar sebagai obat ketika menghadapi situasi seperti ini.</p>
<p>Belanja memang menyenangkan, namun jangan sampai asyiknya berbelanja membuat kita terlena dan terjebak dalam hal yang sia-sia. Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p>Penyusun: Ummu Asma’<br />
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar</p>
<p>Maraji’:</p>
<p>   1. Manhajus Salikiin, Syaikh Abdurrahman bin Nashr As-Sa’di<br />
   2. Syarah Hisnul Muslim (terjemah), Majdi bin ‘Abdul Wahhab Al-Ahmad<br />
   3. Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari, Darul Haq</p>
<p>***</p>
<p>Artikel muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/10/asyiknya-belanja-jangan-sampai-lupa%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidur Cantik Sesuai Tuntunan Rasulullah</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/05/tidur-cantik-sesuai-tuntunan-rasulullah/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/05/tidur-cantik-sesuai-tuntunan-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 04:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Tidur bagi muslimah merupakan saat yang sangat penting. Karena dalam tidurnya ia mengumpulkan tenaga untuk beribadah kepada Allah. Selain itu, ketika tidur hati seorang muslimah di antara jemari Allah. Seorang muslimah cantik karena agamanya. Jadi tidurnya pun harus cantik. Hendaknya seorang muslimah menjaga adab-adab dalam tidur dengan adab yang diajarkan dalam agama Islam. Bagaimana adab-adabnya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidur bagi muslimah merupakan saat yang sangat penting. Karena dalam   tidurnya ia mengumpulkan tenaga untuk beribadah kepada Allah. Selain   itu, ketika tidur hati seorang muslimah di antara jemari Allah. Seorang   muslimah cantik karena agamanya. Jadi tidurnya pun harus cantik.   Hendaknya seorang muslimah menjaga adab-adab dalam tidur dengan adab   yang diajarkan dalam agama Islam. Bagaimana adab-adabnya?</p>
<p>Tidak tidur terlalu malam setelah sholat  isya kecuali dalam keadaan darurat seperti untuk mengulang (<em>muroja’ah</em>)  ilmu atau adanya tamu atau menemani keluarga, sebagaimana yang  diriwayatkan oleh Abu Barzah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p><em>“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci   tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak   bermanfaat) setelahnya.”</em> [Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan  Muslim No. 647 (235)]</p>
<p>Hendaknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu, sebagaimana hadits: <em>“Apabila   engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu   terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.”</em> (HR.  Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)</p>
<p>Hendaknya mendahulukan posisi tidur di atas sisi sebelah kanan   (rusuk kanan sebagai tumpuan) dan berbantal dengan tangan kanan, tidak   mengapa apabila setelahnya berubah posisinya di atas sisi kiri (rusuk   kiri sebagai tumpuan). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: <em>“Berbaringlah  di atas rusuk sebelah kananmu.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim  no. 2710)</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan  tangan kanannya di bawah pipi kanannya.”</em> (HR. Abu Dawud no. 5045,  At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)</p>
<p>Tidak dibenarkan telungkup dengan posisi perut sebagai tumpuannya  baik ketika tidur malam atau pun tidur siang. <em>“Sesungguhnya (posisi  tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa  Jalla.”</em> (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)</p>
<p>Membaca ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain:</p>
<p>a) Membaca ayat kursi.</p>
<p>b) Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh.</p>
<p>c) Mengatupkan dua telapak tangan lalu ditiup dan dibacakan surat   Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas kemudian dengan dua telapak tangan   mengusap dua bagian tubuh yang dapat dijangkau dengannya dimulai dari   kepala, wajah, dan tubuh bagian depan, hal ini diulangi sebanyak 3 kali   (HR. Al-Bukhari dalam <em>Fathul Bari</em> XI/277 No. 4439, 5016 (cet.  Daar Abi  Hayan) Muslim No. 2192, Abu Dawud No. 3902, At-Tirmidzi)</p>
<p>Hendaknya mengakhiri berbagai doa tidur dengan doa berikut:</p>
<p>باسمك ربيوضعت جنبي وبك أرفعه إن أ مسكت نفسي فا ر حمها و إ ن أ ر سلتها  فاحفظها بما تحفظ به عبادك الصا لحين</p>
<p><em>“Bismikarabbii wa dho’tu jambii wa bika arfa’uhu in amsakta   nafsii farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi   ‘ibaadakasshaalihiin.”</em></p>
<p><em>“Dengan Nama-Mu, ya Rabb-ku, aku meletakkan lambungku. Dan   dengan Nama-Mu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan   rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi apabila Engkau   melepaskannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara   hamba-hamba-Mu yang shalih.”</em> (HR. Al-Bukhari No. 6320, Muslim No.  2714, Abu Dawud No. 5050 dan At-Tirmidzi No. 3401)</p>
<p>Disunnahkan apabila hendak membalikkan tubuh (dari satu sisi ke sisi  yang lain) ketika tidur malam untuk mengucapkan doa:</p>
<p>لا إ له إ لاالله الواحدالقهاررب السماوات واﻷرض ومابينهماالعز يزالغفار</p>
<p><em>“laa ilaha illallahu waahidulqahhaaru rabbussamaawaati wal ardhi  wa maa baynahumaa ‘aziizulghaffaru.”</em></p>
<p><em>“Tidak ada Illah yang berhak diibadahi kecuali Alloh yang Maha   Esa, Maha Perkasa, Rabb yang menguasai langit dan bumi serta apa yang   ada diantara keduanya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.”</em> (HR.  Al-Hakim I/540 disepakati dan dishohihkan oleh Imam adz-Dzahabi)</p>
<p>Apabila merasa gelisah, risau, merasa takut ketika tidur malam atau   merasa kesepian maka dianjurkan sekali baginya untuk berdoa sebagai   berikut:</p>
<p>أعوذ بكلمات الله التامات من غضبه و شرعباده ومن همزات الشيا طين وأن  يحضرون</p>
<p><em>“A’udzu bikalimaatillahi attammati min ghadhabihi wa ‘iqaabihi   wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisysyayaathiin wa ayyahdhuruun.”</em></p>
<p><em>“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari   murka-Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan para   syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.”</em> (HR. Abu Dawud No.  3893, At-Tirmidzi No. 3528 dan lainnya)</p>
<p>Memakai celak mata ketika hendak tidur, berdasarkan hadits Ibnu Umar:  <em>“Bahwasanya  Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa  memakai celak dengan  batu celak setiap malam sebelum beliau hendak  tidur malam, beliau  sholallahu ‘alaihi wassalam memakai celak pada  kedua matanya sebanyak 3  kali goresan.”</em> (HR. Ibnu Majah No. 3497)</p>
<p>Hendaknya mengibaskan tempat tidur (membersihkan tempat tidur dari   kotoran) ketika hendak tidur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em>: <em>“Jika  salah seorang di antara kalian akan  tidur, hendaklah mengambil potongan  kain dan mengibaskan tempat  tidurnya dengan kain tersebut sambil  mengucapkan ‘bismillah’, karena ia  tidak tahu apa yang terjadi  sepeninggalnya tadi.”</em> (HR. Al Bukhari  No. 6320, Muslim No. 2714, At-Tirmidzi No. 3401 dan Abu Dawud No. 5050)</p>
<p>Jika sudah bangun tidur hendaknya membaca do’a sebelum berdiri dari  tempat pembaringan, yaitu:</p>
<p>الحمد لله الذي أحيانابعدماأماتناوإليه النشور</p>
<p><em>“Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa  ilayhinnusyuur.”</em></p>
<p><em>“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah  ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan.”</em> (HR. Al-Bukhari  No. 6312 dan Muslim No. 2711)</p>
<p>Hendaknya menyucikan hati dari setiap dengki yang (mungkin timbul)   pada saudaranya sesama muslim dan membersihkan dada dari kemarahannya   kepada manusia lainnya.</p>
<p>Hendaknya senantiasa menghisab (mengevaluasi) diri dan melihat   (merenungkan) kembali amalan-amalan dan perkataan-perkataan yang pernah   diucapkan.</p>
<p>Hendaknya segera bertaubat dari seluruh dosa yang dilakukan dan   memohon ampun kepada Alloh dari setiap dosa yang dilakukan pada hari   itu.</p>
<p>Setelah bangun tidur, disunnahkan mengusap bekas tidur yang ada di  wajah maupun tangan.</p>
<p><em>“Maka bangunlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari  tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.”</em> [HR. Muslim No. 763 (182)]</p>
<p>Bersiwak.</p>
<p><em>“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun malam  membersihkan mulutnya dengan bersiwak.”</em> (HR. Al Bukhari No. 245 dan  Muslim No. 255)</p>
<p><em>Beristinsyaq</em> dan <em>beristintsaar</em> (menghirup kemudian  mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung). <em>“Apabila  salah  seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka  beristintsaarlah  tiga kali karena sesunggguhnya syaitan bermalam di  rongga hidungnya.”</em> (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238)</p>
<p>Mencuci kedua tangan tiga kali, berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em>: <em>“Apabila  salah seorang di antara kamu  bangun tidur, janganlah ia memasukkan  tangannya ke dalam bejana,  sebelum ia mencucinya tiga kali.”</em> (HR. Al-Bukhari No. 162 dan  Muslim No.278)</p>
<p>Anak laki-laki dan perempuan hendaknya dipisahkan tempat tidurnya  setelah berumur 6 tahun. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi)</p>
<p>Tidak diperbolehkan tidur hanya dengan memakai selimut, tanpa memakai  busana apa-apa. (HR. Muslim)</p>
<p>Jika bermimpi buruk, jangan sekali-kali menceritakannya pada   siapapun kemudian meludah ke kiri tiga kali (diriwayatkan Muslim   IV/1772), dan memohon perlindungan kepada Alloh dari godaan syaitan   yang terkutuk dan dari keburukan mimpi yang dilihat. (Itu dilakukan   sebanyak tiga kali) (diriwayatkan Muslim IV/1772-1773). Hendaknya   berpindah posisi tidurnya dari sisi sebelumnya. (diriwayatkan Muslim   IV/1773). Atau bangun dan shalat bila mau. (diriwayatkan Muslim   IV/1773).</p>
<p>Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita)  dalam satu selimut. (HR. Muslim)</p>
<p>Disusun  Oleh: Ummu Hajar<br />
Muroja’ah: Ust. Abu Salman</p>
<p><strong>Maraji’:<br />
</strong><em>Adab Harian Muslim Teladan</em></p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/05/tidur-cantik-sesuai-tuntunan-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dapurku Surgaku</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/05/dapurku-surgaku/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/05/dapurku-surgaku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 04:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[“Ukh, bingung nih mau masak apa buat suami. Ibu saya tadi datang bawa terong, tapi sayang bingung, terongnya harus diapain. Emang terong bisa dimasak apa aja sih, Ukh? Saya nyesel kenapa nggak dari dulu belajar masak…” Kejadian di atas dialami salah seorang sahabat penulis seminggu pasca-menikah. Berangkat dari kejadian tersebut, penulis merasa perlu berbagi pengalaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ukh, bingung nih mau masak apa buat suami. Ibu saya tadi datang bawa  terong, tapi sayang bingung, terongnya harus diapain. Emang terong bisa  dimasak apa aja sih, Ukh? Saya nyesel kenapa nggak dari dulu belajar  masak…”</p>
<p>Kejadian di atas dialami salah seorang sahabat penulis seminggu  pasca-menikah. Berangkat dari kejadian tersebut, penulis merasa perlu  berbagi pengalaman bahwa memasak ternyata punya peran tersendiri dalam  sebuah rumah tangga. Mungkin kejadian di atas tidak perlu membuahkan  masalah jika si istri ternyata piawai dalam hal masak-memasak. Namun,  bagaimana dengan mereka yang mengenal bumbu dapur saja tidak bisa?</p>
<p>Pentingkah Memasak?</p>
<p>Memasak merupakan aktivitas yang banyak dilakoni oleh para wanita sejak  turun temurun. Meski sekarang tidak sedikit pula laki-laki yang handal  memasak, namun dalam kehidupan rumah tangga, memasak tetap harus  diperani oleh wanita. Sekilas kita lihat aktivitas ini mungkin sangat  remeh-temeh. Tetapi pada prakteknya tidak akan semudah itu. Orang yang  mengaku bisa masak pun terkadang suka dihampiri rasa tak percaya diri  ketika masakannya harus dicicipi orang lain. Maka tidak heran jika para  pengamat seni menempatkan masakan sebagai karya seni yang paling  berharga di antara semua karya seni lainnya.</p>
<p>Begitu pentingnya memasak hingga tak jarang kita jumpai banyak orang  yang terkagum-kagum dengan seseorang yang menguasai bidang ini. Pun  seorang istri yang pintar masak. Dengan keahliannya tersebut akan  membuat suaminya betah di rumah dan malas membeli makan di luar. Masakan  yang enak bisa menjadi salah satu perekat cinta seorang suami kepada  istrinya. Bahkan memasak untuk menyenangkan suami bisa menjadi ladang  pahala jika diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Karena salah satu ciri  istri shalihah adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi  semua hal yang disukai suaminya selama tidak dalam bermaksiat kepada  Allah.</p>
<p>Memasak Sebagai Ladang Pahala</p>
<p>Saudariku –yang semoga senantiasa dirahmati Allah- apakah kalian  menyadari bahwa kegiatan memasak ini ternyata bisa sekaligus menjadi  kegiatan ibadah? Sebagai seorang muslimah kita diamanahkan untuk  bertanggung jawab atas rumah kita dan menyiapkan makanan kepada semua  orang yang ada di dalamnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap  kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin,  seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah  pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Jadi, setiap kalian  adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.”  (HR. Bukhari)</p>
<p>Untuk itu tidak ada salahnya bagi seorang muslimah untuk menyiapkan  santapan bagi keluarganya sebaik mungkin, demi melayani hamba-hamba  Allah yang shalih, semisal suami, anak-anak, orang tua, dan semua orang  yang ikut menikmati masakan yang kita masak. Dengan begitu, seorang  muslimah akan ikut mengecap pahala yang Allah berikan kepada mereka, di  mana sebenarnya kita sudah ikut membantu amal perbuatan mereka.</p>
<p>Memasak tidak hanya sekedar kegiatan meramu bumbu dan bahan makanan  hingga terciptalah masakan lezat yang siap santap. Namun memasak juga  bisa menjadi media kita untuk memikirkan dan mensyukuri semua nikmat  yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita cermati, semuanya adalah  rezeki yang telah Allah tentukan kepada kita. Karunia tersebut  terlimpah dengan begitu mudah kepada kita setelah melalui proses campur  tangan banyak orang.</p>
<p>Kita perhatikan saja sayur-sayuran yang kita santap. Akan kita dapati  bahwa di sana ada yang menanaminya, ada yang mengumpulkan panennya, ada  penjualnya, serta masih banyak lagi manusia yang berperan di dalamnya.  Mereka dijadikan oleh Allah untuk melayani kita dan anggota keluarga  kita. Padahal pada hakikatnya Allah-lah yang menanam dan menghidupkan  sayuran tersebut sebagaimana firman-Nya, yang artinya,</p>
<p>“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang  menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?” (Qs. Al Waqi’ah: 63-64)</p>
<p>Begitupun dengan nikmat yang lain yang banyak kita jumpai di meja makan  kita. Allah berfirman mengenai hal ini, yang artinya,</p>
<p>“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami  tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang  dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang  yang tersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba Kami……” (Qs. Qaf:  9-11)</p>
<p>Adapun dalam memasak, hendaklah kita usahakan memasak berdasarkan apa  yang menjadi kesukaan suami dan anak-anak serta keluarga kita. Ini semua  dilakukan dengan harapan dapat membuat suami dan keluarga bahagia, demi  wujud ketaatan kita kepada Allah. Cobalah tanyakan kepada mereka  makanan apa saja yang mereka sukai, jika cara tersebut bisa menyenangkan  mereka.</p>
<p>Kadang kita dapati seorang suami ternyata lebih pintar memasak daripada  istrinya. Jika hal ini yang kita alami, janganlah merasa malu untuk  belajar dari suami kita. Kita juga bisa menggunakan momen memasak  bersama sebagai kesempatan untuk bercengkrama dengan suami sehingga  terciptalah suasana kemesraan yang akan menambah rasa cinta di hati  masing-masing.</p>
<p>Mari Memulainya dari Dapur</p>
<p>Saudariku, sebagai seorang muslimah yang ingin selalu meraih ridha Allah  di setiap kesempatan, maka kita bisa memanfaatkan waktu-waktu kita di  dapur untuk menjadi sarana mendekatkan diri kita kepada-Nya.</p>
<p>Berikut ini hikmah-hikmah yang bisa kita gali dari aktivitas memasak  kita sehari-hari:</p>
<p>1. Saat masakan kita telah matang, maka hadirkanlah dalam benak kita  betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat untuk bisa  menyelesaikan pekerjaan kita.</p>
<p>2.Saat memasak, cobalah untuk mengingat bahwa di luar sana masih banyak  dapur-dapur yang tidak mengepul. Alangkah indahnya jika kita biasakan  untuk selalu mengingat nasib fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang  yang membutuhkan yang ada di lingkungan tempat tinggal kita. Jika  memungkinkan, kita bisa menyisakan sedikit dari jatah makan kita untuk  mereka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka.</p>
<p>3. Ketika mencium aroma sedap masakan kita, saat itu ingatlah tetangga  kita. Sebab bisa jadi tetangga kita juga turut mencium aroma masakan  tersebut. Akan lebih baik lagi jika kita menghadiahkan sebagian masakan  tersebut kepada mereka, khususnya untuk masakan-masakan spesial yang  kita masak. Dengan hal ini akan mengakibatkan tumbuhnya rasa cinta,  saling menghargai dan memperbaiki hubungan tetangga.</p>
<p>4. Dampak yang bisa kita peroleh dari sini adalah tetangga kita akan  menghormati dakwah ini. Inilah di antara sarana yang paling sukses dan  paling sederhana untuk memperkuat tali hubungan sosial dan menyuburkan  sensitivitas perasaan hati kita. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, maka  kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)</p>
<p>5. Bagi yang sudah memiliki anak, mulailah untuk membiasakan mereka  untuk ikut serta membantu kita memasak. Misalnya bisa dengan  mempersiapkan bahan-bahan memasak, sehingga mereka benar-benar terampil.  Di samping untuk mengenalkan apa-apa yang ada di dapur, hal ini juga  untuk membuat mereka turut merasakan beban berat yang kita pikul.  Sehingga mereka akan memberi penghormatan dan akan mudah memahami diri  kita.</p>
<p>6. Ketika mengunjungi kerabat dan teman-teman dekat, kita bisa memilih  masakan karya kita sendiri sebagai oleh-oleh untuk mereka.</p>
<p>Terakhir, sebelum melakukan kegiatan memasak, ada aktivitas lain yang  biasa sering kita lakukan yakni berbelanja di pasar. Bila kita cermati,  kegiatan belanja ini bisa kita gunakan sebagai perkenalan dengan para  penjual langganan kita. Ini juga sebagai sarana untuk menjalin tali  persaudaraan dengan mereka, atau sebagai bentuk interaksi kita dengan  masyarakat, dengan catatan kita tetap harus memperhatikan adab-adab  berinteraksi dengan penjual. Kesempatan ini bisa pula menjadi sarana  dakwah kita kepada mereka. Di sela-sela interaksi dengan mereka, kita  dapat mengenalkan hal-hal yang halal dan haram dalam masalah jual beli,  dan hal-hal lain yang mungkin sering dipertanyakan banyak orang.</p>
<p>Mulailah Belajar</p>
<p>Bagi sebagian yang lain, memasak mungkin menjadi masalah bagi mereka.  Ada beberapa faktor yang membuat seorang muslimah enggan untuk memasak.  Salah satunya adalah rasa malas untuk belajar, di samping juga faktor  kesibukan di luar rumah serta banyaknya warung makan yang menawarkan  jasa catering untuk mereka yang tidak sempat memasak.</p>
<p>Jika hal tersebut berlangsung terus menerus apakah tidak boros?  Bagaimana jika suami atau anak-anak berkeinginan mencoba hasil masakan  kita. Apa kita masih akan memilih makanan dari luar terus? Tentu kita  tidak ingin seperti itu. Untuk itu, bagi yang belum pintar masak,  buanglah rasa malas dan teruslah berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan  terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit, apalagi jika  diniatkan untuk ibadah.</p>
<p>Untuk memasak kita memang akan sedikit repot. Mempersiapkan segala  sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, belum nanti jika  sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Agak  melelahkan memang. Namun kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan  dan kebahagiaan ketika suami dan anak-anak kita menyantap masakannya  dengan lahap.</p>
<p>Nah, bagaimana saudariku? Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita  semua, terutama bagi penulis sendiri. Kita memohon pertolongan Allah  agar selalu memberi kita kemudahan dalam menunaikan tugas-tugas kita  sebagai muslimah. Allahu Ta’ala a’lam.</p>
<div class="note_header">Penulis: Ummu Rumman Azzahra</div>
<p>Muroja’ah: Ustadz Nurkholis, Lc.</p>
<p>Maroji’:</p>
<p>Inilah Kriteria Muslimah Dambaan Pria (terj.), Abu Maryam Majdi bin  Fathi As-Sayyid,Pustaka Salafiyyah. Manajemen Istri Shalihah (terj.),  Muhammad Husain Isa, Ziyad Books Surakarta.Majalah Nikah vol. 5, No. 11  Edisi Muharram 1428 H.</p>
<p>dikutip dari : muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/05/dapurku-surgaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Ku Langkahkan Kakiku Keluar Untuk Bekerja</title>
		<link>http://ochanugroho.com/2010/02/antara-berbakti-kpd-orang-tua-taat-kpd-suami/</link>
		<comments>http://ochanugroho.com/2010/02/antara-berbakti-kpd-orang-tua-taat-kpd-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 06:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ocha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ochanugroho.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“ Dan hendaklah kamu tetap(tinggal) dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahilyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (Al-Ahzab :33) Wahai ukhti muslimah,…Wanita dalam pingitan menunjukkan kemuliaan dan kesucian. Terdapat dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>     وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“</p>
<p>    <em>Dan hendaklah kamu tetap(tinggal) dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahilyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (Al-Ahzab :33)<br />
</em></p>
<p>Wahai ukhti muslimah,…Wanita dalam pingitan menunjukkan kemuliaan dan kesucian. Terdapat dalam sejarah dari dulu hingga kemudian. Dalam pingitan malu menjadi hiasan. Wajarlah bila ia menjadi primadona dan dambaan. Bukankah Allah ciptakan bidadari surga dalam pingitan?</p>
<p>Tetapi mengapa wanita sekarang berlomba-lomba meninggalkan rumahnya,menukar tempat yang mulia dengan kehinaan?Bukankah telah Allah perintahkan dalam Al-Qur’an tinggallah dalam rumah-rumah kalian wahai wanita yang beriman?tidakkah kau lihat sekarang terjadi berbagai kerusakan dari banyaknya wanita yang berbaur dengan laki-laki dan berkeliaran?perselingkuhan dan perzinahan menjadi kemaksiatan yang tak lagi menakutkan, pada Allahlah kita meminta pertolongan…</p>
<p>Wahai ukhti muslimah,…banyak slogan bertaburan untuk menjadikan kalian wanita yang mengikuti perkembangan zaman walaupun harus mengorbankan agama dan kehormatan kalian, agar julukan kuno dan ketinggalan zaman tidak melekat pada diri kalian.</p>
<p>Hingga akhirnya wahai saudariku,…sebagian saudari kita merasa sesak dan sempit dadanya ketika harus tinggal dirumah. “Seperti burung dalam sangkar “, katanya. Betapa membosankannya! Merasa nyaman ketika di luar rumah bergaul begitu bebas tanpa batasan, keluar rumah tanpa kebutuhan. Hilanglah sudah rasa malu yang menjadi hiasan utama para wanita, tak merasa risih berbicara dengan lawan jenisnya tanpa ada kebutuhan yang penting atau mendesak bahkan tertawa dan bercanda? Bukankah Rasul  kita yang mulia bersabda : “Malu adalah sebagian dari iman?”1</p>
<p>    Mereka beralasan “Tidaklah kami keluar melainkan karena kami harus bekerja membantu suami atau orangtua kami karena kebutuhan hidup yang semakin tinggi, bagaimana kami hidup jika kami tidak keluar bekerja?”</p>
<p>Wahai saudariku,…mencari nafkah adalah tanggungjawab suami  jika engkau telah bersuami,  ridhalah dengan pemberiannya. Syukurilah ia walau tak seberapa, keridhaanmu dan qana’ahmu (menerima apa adanya) justru akan membawa barakah pada harta suamimu. Bila engkau belum menikah maka ayahmulah yang bertanggungjawab atas biaya hidupmu. Bersyukurlah atas pemberian orangtuamu dan berbaktilah pada mereka agar doamu dikabulkanNya. Bukankah Uwais Al-qarni sangat berbakti pada ibunya yang membuat doanya dikabulkan Allah? hingga Nabi kita yang mulia menyuruh Umar Radiyallahu anhu bila berjumpa Uwais agar meminta doa darinya agar Allah mengampuni dosa Umar? Bukankah Umar radiyalahu anhu juga menawarkan dunia berupa surat rekomendasi kepada uwais yang waktu itu akan ke Kufah. Bila saja ia mau menggunakannya maka kehidupannya akan berubah. Dunia mendatangi Uwais dan tunduk padanya akan tetapi Uwais menolaknya dengan berkata, “Menjadi orang biasa dan tidak terkenal adalah lebih aku sukai.”2</p>
<p>Wahai saudariku fillah,… dalam hidup ini kita akan selalu dirisaukan dengan kelaparan, kefakiran dan ketakutan karena memang demikianlah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman : </p>
<p>    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ</p>
<p>   <em> “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)<br />
</em></p>
<p>Tidakkah kau lihat dalam sejarah wahai saudariku,…sebelum sahabat dan sahabiyah mengenal islam. Hidup dalam gelap gulita, kehinaan, permusuhan, pertumpahan darah, kesesatan bahkan kefakiran. Kemudian mereka menyerahkan diri mereka hanya taat pada perintahNya dan RasulNya tercinta. Keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi mereka adalah pedoman hidup mereka. Jasad mereka berjalan di atas muka bumi tetapi hati-hati mereka tergantung di akhirat. Iman, takwa dan amal shaleh menjadi pakaian mereka. Maka kejayaan, kekayaan bahkan dunia menghampiri dan bertekuk lutut dihadapan mereka. Tidakkah mereka pada saat itu menguasai bumi dari timur hingga barat? Allahpun memenuhi janjiNya.                     </p>
<p>    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا</p>
<p>    <em>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (An-Nuur: 55).</em></p>
<p>Wahai saudariku,…aku ulang sekali lagi, bukankah dunia menghampiri para sahabat yang mulia? Mereka tidak tertipu dan terbenam dalam gemerlapnya kehidupan dunia. Akan tetapi justru hidup zuhud adalah pilihan mereka. Mereka tetap memilih untuk khusyu’, tunduk dan berhina diri di hadapan Allah Azza wa jalla. </p>
<p>Lalu arahkanlah pandanganmu sekali lagi pada Al-Qur’an,…akan engkau dapati kisah indah dan menakjubkan. Dua wanita putri  nabi yang mulia, sangat terpaksa harus membawa binatang ternaknya ke sumber air Madyan . Karena sang ayah telah lanjut usia hingga tugasnya tak mampu lagi beliau tunaikan. Rasa malu menghalangi mereka untuk berbaur (ikhtilath) dengan kaum lelaki jadilah mereka  menunggu dari kejauhan. Mereka rela sabar menunggu memberi  minum ternaknya setelah berlalunya rombongan. Inilah dia kisah yang akan membuat hatimu tertawan, Allah berfirman:</p>
<p>    وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ</p>
<p>   <em> “Dan tatkala ia (Nabi Musa alaihis salam) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? ” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.(Al-Qashas:23).</em></p>
<p> Maka Allahpun memberikan pertolongan pada kedua putri Nabi Syuaib alahis salam dengan hadirnya Nabi Musa alaihis salam yang memberi minum ternak mereka.</p>
<p>    فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ</p>
<p>   <em> “Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ketempat yang teduh lalu berdo’a: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas :24).</em></p>
<p>Wahai hamba Allah yang shalihah,…renungkanlah kisah mulia diatas. Rasa malu ternyata telah menjadi hiasan wanita di masa lampau. Walau bagaimanapun beratnya tantangan hidup, dua putri nabi mulia memilih menjauh dari  ramai sesaknya para pria. Bersabar menunggu hingga mereka pergi dan berlalu barulah mereka memberi minum ternaknya kemudian Allah pun memudahkan urusan dunia mereka dengan menghadirkan Musa alaihis salam agar menolong mereka berdua.</p>
<p>    Diantara saudari kita ada yang berkata, “Kita tetap harus bekerja karena kita butuh pegangan, kita butuh harta agar anak-anak kita tidak terlantar bila ayahnya tiada, apalagi kita tidak tahu isi hati suami kita bagaimana kalau ia tergiur wanita lain lalu melupakan kewajibannya menafkahi keluarga?”</p>
<p>Wahai para istri,…tak ada satupun ulama melarang wanita bekerja dengan dua syarat kewajibanmu sebagai  istri engkau tunaikan dan jenis pekerjaan yang tidak melanggar syariat agama. Tinggal dirumah adalah lebih utama akan tetapi bila memang engkau harus keluar maka taatilah rambu-rambu agama. Keluar dengan menutup aurat secara sempurna yaitu dengan jilbab syar’i yang merupakan pakaian wanita bertakwa, hindari ikhtilath semampumu, menundukkan pandangan dan hiasan malumu janganlah engkau tanggalkan. Karena dengan malu itulah engkau menjadi terhormat dan dimuliakan.</p>
<p>Jika engkau berburuk sangka pada suamimu diluar ketika mencari nafkah,..hatimu tidak tenang dan was-was boleh jadi ia tergiur wanita lain. Tidakkah engkau sadar karena ini adalah akibat dari bergaul bebasnya wanita dengan laki-laki sehingga engkaupun terkena fitnah keraguan? Sebagai seorang muslimah yang beriman hendaklah menjauhi dari prasangka karena ini adalah dosa sebagaimana Rabb kita berfirman: </p>
<p>    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ</p>
<p> <em>   “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (Al-Hujuraat: 12)</em></p>
<p>“Bagaimana bila suamiku tiada, tentu anak-anakku akan terlantar”, Wahai saudariku,… jangan biarkan setan mengelabuhimu. Menakut-nakutimu terhadap perkara ghaib. Kematian adalah perkara yang ghaib, hanya Allah saja yang tahu. Boleh jadi kitalah yang mendahului suami kita karena urusan ajal adalah rahasia Allah semata. Kita dilarang berbuat “rajman bilghaib” yaitu menerka-nerka sesuatu perkara yang ghaib yang dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.       </p>
<p>    وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ                                                                       </p>
<p>     “<em>Dan, tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Lukman : 34).</em></p>
<p>Bercerminlah wahai ukhti muslimah,…pada Ummu Salamah radiyallahu anha. Ketika suaminya tercinta ditakdirkan Allah sebagai syuhada. Beliau beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilahi raajiun) kemudian bersabar dan bertawakal kepadaNya dengan berdoa:</p>
<p>    “Ya, Allah berikanlah pahala karena musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik”3.</p>
<p>Maka beliaupun bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah?” Allahpun menjawab doanya ketika iddah beliau selesai,  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam datang  melamarnya kemudian menikahinya dan beliau pula yang menanggung anak-anak Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata:</p>
<p>     Allah telah mengganti untuk diriku yang lebih baik dari Abu Salamah radiyallahu anhu yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.4.</p>
<p>Wahai ukhti muslimah semoga Allah memuliakanmu, setelah engkau membaca kisah Ummu Salamah Radiyallahu anha apalagi yang engkau ragukan?Apa lagi yang engkau  risaukan?Bukankah Ar-Rahman telah memberikan jaminan setelah Ia memberikan ujian dan cobaan pada hamba-hambaNya yang beriman?kebahagiaan di akhirat berupa surga yang penuh dengan kenikmatan dan keabadian. Di dunia bahkan Dia akan menggantinya dengan lebih baik dari yang sebelumnya hamba tersebut dapatkan. Buah dari kesabaran dan ketawakalan.</p>
<p>Tinggal di rumah adalah perintah dari Rabbmu Azza Wajalla, sangat utama ibadah dan berpahala. Kebaikan di dalamnya tersimpan melimpah ruah. Barakah dari atas langit senantiasa tercurah.</p>
<p>Duhai, para calon bidadari surga… segeralah kembali pada seruan Penciptamu,taatilah perintahNya maka keberuntungan akan menghampirimu, kebahagiaan dunia akan mendatangimu akhiratpun berbahagia menyambutmu.Wallahu a’lam bish-shawwab.</p>
<p>Artikel ini telah di muraja’ah (dibaca dan di cek ulang) dan di setujui oleh :</p>
<p> Ustadz Khalid Syamhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<p>   1. Terjemah Shahih Bukhari,Asy-Syifa’, Semarang.<br />
   2. Ringkasan Shahih Muslim,Pustaka Amani, Jakarta.<br />
   3. Hiburan bagi Orang-orang Yang Tertimpa Musibah,Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al-Hambali,Darul Haq,Jakarta.</p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>   1. HR.Muslim no.30 Bukhari no.9 [↩]<br />
   2. Lihat Hadits Riwayat Muslim no.1747 dan 1748 [↩]<br />
   3. HR.Muslim no.918 kitab janaiz [↩]<br />
   4. lihat kisah ini dalam Shahih Muslim dalam kitab al-Janaiz [↩]</p>
<p>Artikel : jilbab.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ochanugroho.com/2010/02/antara-berbakti-kpd-orang-tua-taat-kpd-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

