•  
  •  
  •  
  •  
15

“Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga” 30 May 2009 @ 4:01 am

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih! :((

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu? X|

Wallahu a’lam

(Ummu Ayyub,Muroja’ah: Ust Abu Ahma)

Kategori: Muslimah

15 komentar

  1. icha 7 July 2009 @ 2:32 pm

    nice blog Mbak.. Sepertinya saya harus banyak belajar setelah baca blog Mbak, menjalanin semata krn Allah SWT masih sulit saya jalankan tapi Insya Allah saya akan terus belajar dan belajar jadi ibu yang baik dan jadi hamba Allah yg lebih bertaqwa..

    salam kenal, wass
    icha :)

    balas
    • Ocha 15 July 2009 @ 2:59 pm

      salam kenal juga mba’icha..Ayo kita sama2 belajar dan saling mengingatkan agar jgn pernah putus asa dlm berusaha utk jd irt yg baek dan jd hambaNya yg bertaqwa.amien

      balas
  2. zee 9 July 2009 @ 7:59 pm

    Hai Cha…
    Memang jalan hidup orang itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Yang Di Atas ya.

    Kadang yg bekerja iri sama FTM karena bisa full mengurus anak di rumah, sementara yg FTM juga kadang iri sama WM. Memang akan selalu begitu. Cara pandang orang akhir2 ini yg memandang mereka yg bekerja adalah orang sukses, memang gak lepas dari bergesernya pandangan org ttg materi. Yg memandang materi adalah segalanya.

    Yg penting sih setiap orang memang harus melaksanakan tanggung jawab sesuai profesinya itu.
    Saya pribadi yg bekerja sebenarnya kagum dgn para ibu rumah tangga krn sanggup sendirian mengurus anak-anaknya tp masih sanggup juga mengurus rumah. Dicintai anak2 adalah gaji yg tak ternilai.

    Aduh aku sok tua banged ya cha… hehehe…. sorry ya kepanjangan sharingnya :)

    balas
    • Ocha 15 July 2009 @ 3:04 pm

      hai juga mba zee..gpp kok,sy seneng bisa sharing dgn mba. Memang jalan hidup dah diatur olehNya,tp kan pilihan tetap ada ditangan makhluknya bukan??
      Yang penting gmn memilih profesi yang bisa dipertanggungjwbkan bukan hanya di dunia ttp juga nanti di hadapanNya.

      balas
  3. nova 15 July 2009 @ 11:02 am

    Ocha sekarang jauh diluar bayanganku tulisannya hebattt…salut buat ocha & salam buat keluarga sukses selalu

    balas
    • Ocha 15 July 2009 @ 3:06 pm

      Nova…aku masih harus byk belajar lagi kok.slm jg bwt kluarganya ya….

      balas
  4. Sheilla 15 July 2009 @ 3:30 pm

    Nggak perlu khawatir harus milih salah satu, toh sekarang jalan makin terbuka lebar buat para stay at home mom yang mau tetep punya penghasilan sendiri, alias kerja dari rumah.

    balas
  5. Nurhayati 29 August 2009 @ 1:49 pm

    Hati ini terasa lega, ternyata masih ada orang yang sama “Bangga menjadi Ibu Rumah Tangga”.
    Terimakasih, artikel Mba telah membantu saya.

    Maaf ya Mbak, beberapa artikel Mbak saya kutip untuk kepentingan ibu rumah tangga.
    1x lg terimakasih. :xoxo:

    balas
  6. Nurhayati 29 August 2009 @ 1:53 pm

    Salam kenal

    balas
    • Ocha 28 September 2009 @ 10:07 am

      salam kenal jg ma..yuuuk mari mba,silahkan aja kalo mau kutip artikelnya.smoga bermanfaat bwt smuanya yaaa…

      balas
  7. dina 23 June 2010 @ 4:20 pm

    Assalamu’alaikum, salam kenal bunda, jadi ibu RT itu jangan disangka dalam 24 jam terus2an bekerja, cuman beberapa orang tidah ngeh

    balas
    • Ocha 23 June 2010 @ 4:39 pm

      WslmWrWb,salam kenal jg ya Bun…Iya bener bgt,termasuk sy itu yg tidak “ngeh” ;) :)

      balas
  8. ulil 9 October 2010 @ 8:51 pm

    Kadang aku dilema dgn pend akhir S2 tp dirumah only FTM krn pny baby & islam menyukai wanita sbg FTM. tapi Dipandang sebelah mata sama teman2 & keluarga yg notabene career woman aku ngerasa terkucilkan :((
    Pdhl FTM ngurus rumah-baby-suami sndrian tanpa pembantu or BS rebed bgd hehe :D
    tulisannya mbak Ocha jd bikin aku adem gitu…nambah semangat jd FTM. Chayo

    balas
  9. Ocha 16 October 2010 @ 11:29 am

    yaa betul bgt itu,ga usah mba Ulil yg udh S2 saya yg baru D3 aja masih sering dicemoohkan kok. :)
    Sabar aja mba yaa,ayo kita sama2 menyiapkan generasi muda yg tangguh utk bangsa dan agama.

    balas
  10. nana 20 December 2010 @ 12:34 pm

    tulisan yg bagus dan membuka mata saya..thx Mb Ocha. Saya jg bernasib sama dgn Mb Ulil, lulusan S2 yang menjadi ibu rumah tangga saja..tp yg membuat saya sepi dan sedih, saya belum diberi keturunan setelah setahun menikah ini..Blm lg bila harus menghadiri pertemuan keluarga besar, saya selalu dihadapkan pada sindiran dan cemooh mengenai pendidikan dan profesi saya. Orang tua saya jg menuntut saya harus bekerja, tp saya tahu, suami saya lebih suka saya di rumah dan sepenuhnya mengurus rumah dan anak2 kelak. apapnu yg saya kerjakan, semata2 mendapat ridho Allah SWT, itu yg membuat saya tenang..

    balas

Tulis komentar

o_0 X| ;) :| :xoxo: :joy: :eek: :devil: :cheer: :blush: :angel: :P :D :?: :)) :) :(( :(

 
  • Lilypie First Birthday tickers
  • Postingan Terakhir

    • Ibu, Sungguh Begitu Mulia Peranmu
    • Rumus Kecantikan Wanita
    • Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Harus Malu??
    • “Hiasi Dirimu dengan Malu”
    • Indahnya Berhias
    • Topeng Emansipasi
    • Asyiknya Belanja, Jangan Sampai Lupa…
    • Tidur Cantik Sesuai Tuntunan Rasulullah
    • Dapurku Surgaku
    • Ketika Ku Langkahkan Kakiku Keluar Untuk Bekerja
    • Saudariku, Kembalilah ke Rumah…
    • “Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga”
  • Arsip

    • March 2011
    • October 2010
    • May 2010
    • February 2010
    • June 2009
    • May 2009
  • Tagboard

  • Komentar Terbaru

    • istie di Ibu, Sungguh Begitu Mulia Peranmu
      hemmmm keren lhooooo,,,,,,jd bangga jd wnita muslimah. thnx bwt smua penjelasannya...
    • nana di “Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga”
      tulisan yg bagus dan membuka mata saya..thx Mb Ocha. Saya jg bernasib...
    • Ocha di Rumus Kecantikan Wanita
      Iya Bun,senang bisa berbagi artikel dengan bunda2 yg laen jg..makasih ;)
    • dina di Rumus Kecantikan Wanita
      artikel yg bermanfaat, tfs
    • Ocha di “Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga”
      yaa betul bgt itu,ga usah mba Ulil yg udh S2 saya yg baru D3 aja masih...
  • Meta

    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.org
  • Blogroll

    • Ocha
    • Sheilla
subscribe
  • Topik Blog

    • Emansipasi
    • Kecantikan
    • Muslimah
  • Blog
  • Tentang
  • Shop
  • Pembayaran
  • Hasil Transaksi
  • Account Saya
  • © Ocha Nugroho
  • Designed by Made With Love Inc.